RI Mau Bikin Pembangkit Nuklir, Ini Lokasi yang Potensial

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 30 Apr 2021 15:05 WIB
Jepang Belum Putuskan Nasib 1 Juta Ton Limbah Radioaktif di Fukushima
Ilustrasi/Foto: Australia Plus ABC
Jakarta -

Pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) ditarget pemerintah bisa dibangun setelah tahun 2025. Rencana pembangunan pembangkit nuklir sudah sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) No. 79 tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional.

Pembangunan PLTN akan dilakukan setelah melakukan komunikasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Di sisi lain, studi mengenai lokasi penempatan PLTN sendiri sudah pernah dilakukan, sejauh ini ada tiga tempat yang berpotensi sebagai lokasi pembangunan PLTN.

Dalam catatan detikcom, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) sudah banyak melakukan studi kelayakan PLTN di beberapa wilayah. Bahkan, hal ini sudah dilakukan sejak tahun 1990-an.

Kepala Batan Anhar Riza Antariksawan menjelaskan studi kelayakan pertama dilakukan pada tahun 1991-1996 oleh Batan. Lokasinya di semenanjung Gunung Muria, Pati, Jawa Tengah.

Dari situ didapatkan tiga lokasi potensial, Ujung Lemahabang, Ujung Genggrengan, dan Ujungwatu. Paling memungkinkan dia mengatakan PLTN dibangun di kawasan Ujung Lemahabang.

Perkiraannya, di tempat itu bisa dibangun pembangkit nuklir berkapasitas 7 ribu mega watt elektrik. Namun, di tempat ini penerimaan masyarakat terhadap pembangunan PLTN kurang baik.

"Studi kelayakan, kita sudah melakukan sejak 1990-an. Di Semenanjung Muria ini, ada Ujung Lemahabang mampu menjadi 7 ribu megawatt elektrik. Namun aksesibilitas penerimaan masyarakat kurang baik," jelas Anhar dalam rapat dengan Komisi VII DPR RI, di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (8/12/2020).

Studi kelayakan berikutnya dilakukan di medio 2011-2013, letaknya di Provinsi Bangka Belitung. Studi itu dilakukan Batan bekerja sama dengan PLN.

Dari studi kelayakan itu didapatkan daerah Bangka Barat bisa dibangun PLTN berkapasitas 6 ribu megawatt elektrik dan Bangka Selatan 4 ribu megawatt elektrik.

Studi kelayakan paling baru dilakukan di Kalimantan Barat (Kalbar). Batan bekerja sama dengan Pemprov Kalbar beserta perguruan tinggi di daerah tersebut.

Studi ini masuk ke dalam program prioritas riset nasional, dimulai dari 2020 dan akan berakhir di 2024. Hasil terakhir, Anhar menyebut daerah Pantai Gosong bisa berpotensi besar untuk pembangunan pembangkit nuklir.

"Saat ini kita lakukan di Kalbar, ini masuk ke dalam program prioritas riset nasional. Ada beberapa calon survei, sepertinya daerah Pantai Gosong yang layak, ini masih studi kita belum bisa keluarkan hasilnya," jelas Anhar.

Lihat juga Video: Blak-blakan Pakar Nuklir Batan: PLTN Terkendala Politik

[Gambas:Video 20detik]



(hal/ara)