BPH Migas Upayakan Konversi Bahan Bakar Kereta Api & Kapal ke LNG

Yudistira Imandiar - detikFinance
Jumat, 30 Apr 2021 17:19 WIB
Kepala BPH Migas M Fanshurullah Asa
Foto: BPH Migas
Jakarta -

BPH Migas menginisiasi pertemuan antara konsumen pengguna Jenis BBM Tertentu/Solar subsidi untuk Kereta Api dan Transportasi Laut dengan PT. PGN LNG Indonesia dan PT. Pertagas Niaga. Pertemuan tersebut membahas pilot project konversi ke LNG pada moda transportasi kereta api maupun kapal.

Kepala BPH Migas M Fanshurullah Asa menyampaikan BPH Migas mengundang PT. KAI dan pelaku transportasi laut dan asosiasi, antara lain PT. ASDP, PT. PELNI, Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (GAPASDAP), Indonesia National Ferry Owners Association (INFA), dan Indonesian National Shipowners' Association (INSA) untuk bertemu dengan PT. PGN LNG dan PT. Pertagas Niaga.

Ifan, sapaan akrab Fanshurullah, mengatakan konversi energi ke LNG merupakan salah satu solusi guna membantu negara mengurangi subsidi BBM. Berdasarkan Data yang ada di BPH Migas penggunaan BBM subsidi saat ini untuk konsumen transportasi baik kereta api dan transportasi laut mencapai 1 juta KL.

"Jika ini bisa secepatnya kita lakukan konversi ke LNG, sama saja membantu negara mengurangi subsidi, juga mengurangi pemanasan global, mengurangi polusi, mengurangi impor sehingga devisa bisa dihemat," urai Ifan dikutip dalam keterangan tertulis, Jumat (30/4/2021).

BPH Migas, kata dia, berinisiatif untuk menawarkan dan mendorong rencana konversi pemakaian BBM Subsidi ke LNG dengan Iso Tank sebagai bahan bakar sektor transportasi khususnya Kereta Api dan Transportasi Laut/Kapal, dan mengetahui update kerja sama yang sudah terjalin serta rencana tindak lanjut yang akan dilakukan.

Ifan menyampaikan saat ini BPH Migas sudah bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada dan yang lainnya untuk membuat pengaturan agar retail LNG berbasiskan iso tank kontainer bisa ditata tarif penyalurannya, serta regasifikasi sehingga para pihak bisa mendapatkan harga yang terjangkau, dan adil untuk semua pihak.

BPH Migas berharap bulan Agustus nanti sudah ada pilot project konversi LNG di gerbong kereta api, begitu juga di armada transportasi laut. Ifan mengulas penggunaan LNG sebagai bahan bakar kereta api dan kapal sudah diterapkan di beberapa negara seperti di Amerika Serikat, Kanada, Rusia, dan India.

"Semoga rapat ini bisa menghasilkan komitmen perwujudan konversi dari BBM subsidi ke LNG, paling tidak dalam bentuk pilot project dan bila perlu pilot project tersebut dibiayai dari Iuran BPH Migas yang berasal dari Badan Usaha," cetus Ifan.

Direktur Utama PT PGN LNG Indonesia Jeffry Hotman mengatakan PGN LNG tengah melakukan kajian teknis dan pertukaran informasi terkait kerja sama dalam project konversi BBM ke LNG dengan KAI. Aspek teknis dari project ini adalah konverter kit yang sangat spesifik sehingga terus dilakukan pengembangan.

Menurut Jeffry, diharapkan pada Agustus 2021 uji performance penggunaan LNG di kereta api dapat diimplementasikan pada bulan Agustus. Selanjutnya di bulan September harapannya bisa diperoleh data untuk dilakukan pembahasan lebih lanjut terkait komersialisasi.

Ia mengulas dari aspek safety, LNG lebih aman daripada CNG karena LNG disimpan pada tekanan atmosfer dan tangki didesain dengan standar safety yang tinggi. Terkait ukuran tangki akan dapat diperhitungkan lebih detail disesuaikan dengan kebutuhan bahan bakar case by case dari rute perjalanan kapal.

Terkait fleksibilitas jalur pasokan, PGN LNG memperhitungkan untuk ASDP dengan rute yang sudah pasti, maka dapat diusahakan adanya supply point yang lebih dekat dengan rute. Sedangkan untuk PELNI yang jaraknya jauh untuk kembali ke supply point dapat dipertimbangkan penggunaan dual fuel.

PGN LNG, ungkap Jeffrey, akan melakukan pembaruan MOU dengan PELNI & ASDP dan mengharapkan kajian yang telah dilakukan dapat dilanjutkan dengan pembahasan implementasi lebih lanjut.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Pertagas Niaga Linda Sunarti menyampaikan Pertagas Niaga siap untuk memberikan support terkait penyediaan dan supply LNG untuk sektor transportasi jika akan melakukan konversi BBM ke LNG. Untuk menjamin keekonomian harga LNG yang fluktuatif, menurutnya perlu kebijakan khusus pemerintah terkait harga di hulu.

Infrastruktur Pertagas Niaga, sebut Linda, saat ini masih dedicated untuk sektor listrik dan industri namun tidak menutup kemungkinan untuk pemanfaatan dan pengembangan infrastruktur baru untuk sektor transportasi

Sementara itu PT Kereta Api Indonesia (Persero) yang diwakili oleh CDD Infrastructure Maintenance Junaidi N menyampaikan PT KAI mengharapkan konversi ke LNG akan memberikan biaya lebih ekonomis daripada BBM. PT KAI sudah berkoordinasi dengan PGN LNG terkait perjanjian kerja sama dan masih perlu pembahasan lebih lanjut. Untuk pengujian performance LNG akan lebih banyak dilakukan secara statis.

Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry Persero Ira Puspadewi menyampaikan MOU dengan PGN LNG perlu diperbarui namun telah dilakukan survey bersama dengan PGN LNG terhadap mesin pembangkit yang dapat dilakukan uji coba untuk aplikasi alat konversi LNG di Merak-Bakauheni. PT ASDP mengharapkan harga LNG yang kompetitif, aksesibilitas secara teknis & supply hingga bantuan teknologi konversi serta kebijakan pendukung.

(mul/mpr)