Tak Lagi Rugi, PT Timah Kantongi Laba Bersih Rp 10 M

Danang Sugianto - detikFinance
Jumat, 07 Mei 2021 10:25 WIB
pt timah
Foto: dok. PT Timah
Jakarta -

Kinerja keuangan PT Timah Tbk (TINS) mulai membaik. Sepanjang kuartal I-2021 perusahaan berhasil memutar balik nasib dari dulunya rugi menjadi untung.

Pada kuartal I-2021 TINS mencatatkan pendapatan sebesar Rp 2,4 triliun. Angka itu turun jauh sekitar 45% dibandingkan kuartal I-2020 sebesar Rp 4,4 triliun.

Namun perusahaan berhasil melakukan efektivitas manajemen biaya. Akhirnya TINS berhasil membukukan laba operasi sebesar Rp 131 miliar atau naik signifikan dibandingkan kuartal I-2020 yang minus sebesar Rp 434 miliar.

Lalu perusahaan juga berhasil mengantongi laba bersih sebesar Rp 10 miliar. Meski tak besar, namun torehan itu berbanding terbalik dengan kuartal I-2020, perusahaan mengalami kerugian sebesar Rp 413 miliar.

Profitabilitas PT Timah terus membaik yang nampak dari Gross Profit Margin (GPM) sebesar 13,21% dan Net Profit Margin (NPM) sebesar 0,42%. Adapun likuiditas TINS masih sehat dengan Current Ratio sebesar 128,57%. Solvabilitas TINS juga menunjukkan perbaikan dimana Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 123,19%.

Kinerja anak perusahaan TINS mulai tumbuh sesuai ekspektasi, di antaranya batu bara dan nikel. Diharapkan kontribusi pendapatan di luar bisnis timah terus tumbuh dan mampu menopang keberlanjutan Perseroan ke depannya.

"TINS memiliki batubara yang berkalori tinggi dan diminati pasar. Dengan harga batubara yang relatif stabil, dan diharapkan tingkat produksi di level 500K ton - 750K ton pada tahun 2021 akan berdampak positif terhadap kinerja finansial Perseroan," ujar Sekretaris Perusahaan TINS Abdullah Umar dalam keterangan tertulis, Jumat (7/5/2021).

Sumber daya dan cadangan timah offshore merupakan aset strategis untuk menjaga keberlangsungan bisnis pertimahan yang dilakoni TINS. Sebagai informasi, cadangan timah per akhir tahun 2020 tercatat sebesar 282.312 ton yang 94% diantaranya berlokasi di offshore, sedangkan sumber daya timah tercatat sebesar 823.420 ton dengan komposisi offshore sebesar 51%.

Di samping timah sebagai bisnis utamanya, TINS mulai memoles performa bisnis penambangan batu bara yang beroperasi di Kalimantan Selatan dengan lahan IUP seluas 9.721 Ha dan berkadar Gross Air Received (GAR) 6.200 Kcal/Kg. Ditambah pamor nikel yang makin membaik membuat TINS lebih intensif menggarap penambangan nikelnya yang berlokasi di Sulawesi Tenggara dengan luas IUP sebesar 300 Ha.

Setelah dipukul badai pandemi yang demikian masif, TINS mulai menambah armada penambangan offshore secara bertahap. Produksi bijih timah pada kuartal I-2021 tercatat sebesar 5.025 ton yang mana sebesar 61% berasal dari offshore. Produksi logam timah pada Q1-2021 terkoreksi 63% menjadi 5.220 ton dan penjualan logam timah terkoreksi 66% menjadi 5.912 ton.

Fluktuasi harga logam timah di LME bergerak di rentang harga yang terbatas, dan diramalkan masih akan terus kinclong sampai dengan akhir tahun. Sebagai produsen terbesar timah kedua di dunia, PT Timah memiliki posisi tawar yang menentukan di pasar timah dunia.

(das/ara)

Tag Terpopuler