Gerakan 1 Juta Surya Atap Berprogres, Jadi Potensi Penggerak Utama EBT

Erika Dyah Fitriani - detikFinance
Selasa, 01 Jun 2021 17:44 WIB
panel surya
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Pemerintah menargetkan tercapainya bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 23% pada tahun 2025, sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Rencana Umum Energi nasional (RUEN). Ada berbagai macam energi baru yang tengah dikembangkan di Tanah Air, salah satunya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Ketua Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Fabby Tumiwa mengatakan pihaknya berupaya untuk menjadikan energi surya sebagai prime mover atau penggerak utama dalam transisi EBT di Indonesia. Ia menilai, energi surya memiliki berbagai kelebihan untuk dapat menggerakkan energi terbarukan di Tanah Air.

"Kami tidak menafikan banyak energi terbarukan, tapi yang banyak dan bisa cepat untuk memenuhi kebutuhan energi kita dalam rangka mencapai target kebijakan energi nasional 23% EBT untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, PLTS itu yang paling cepat," jelas Fabby dalam Press Luncheon Ketua Umum dan Pengurus AESI di Jakarta, Selasa (1/6/2021).

Lebih lanjut, ia memaparkan kelebihan energi surya yang memiliki potensi menjadi prime mover EBT di Indonesia. Pertama, energi surya ada di seluruh Indonesia tanpa terbatas, mulai dari Sabang hingga Merauke. Dari pukul 6 pagi hingga 6 sore sinar matahari selalu ada untuk bisa mendapatkan energi surya.

Tak hanya itu, ia juga mengatakan energi surya relatif mudah diakses di mana saja. Sebab teknologinya modular, kecil, juga bisa dipersonalisasikan. Teknologinya juga disebut-sebut mudah dan cepat untuk di-install.

"Artinya jika Anda butuh 1kW bisa pasang segitu, butuh 10kW juga bisa pasang. Kan teknologi PLTS itu basisnya modul surya yang mengkonversi sinar matahari menjadi listrik," jelasnya.

Ketua Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Fabby TumiwaKetua Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Fabby Tumiwa Foto: Erika Dyah Fitriani

Fabby pun menilai PLTS merupakan bentuk demokratisasi energi pada masyarakat, sebab semua orang dari segala kalangan bisa memakainya. Ia juga mengungkap kalau investasi PLTS semakin terjangkau dari waktu ke waktu.

"Kalau bicara sepuluh tahun lalu, harga PLTS untuk 1 kW masih mencapai lebih dari US$1.500 per kilo watt, harga sel surya di atas US$ 1 per watt. Hari ini kalau kita lihat data, investasi 1kW panel surya saja sudah di kisaran antara US$ 400-500, sudah turun drastis. Jadi jauh lebih terjangkau," ungkapnya.

Di tahun 2017, lanjut Fabby, pihaknya turut menjadi bagian dari deklarasi Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap bersama Kementerian ESDM, Kementerian Perindustrian, Masyarakat Ekonomi Terbarukan Indonesia (METI), dan lain sebagainya. Gerakan ini menargetkan adanya 1 juta pengguna PLTS Atap di 2025.

Fabby mengungkap progres gerakan tersebut masih jauh dari target. Akan tetapi, di masa kepengurusan AESI hingga 2024, ia menargetkan 1 juta PLTS Atap di Indonesia bisa tercapai.

Mengutip data Indonesia Energy Transition Outlook dari Institute for Essential Services Reform (IESR) di 2020, angka pengguna PLTS Atap di berbagai sektor terus meningkat dibanding tahun sebelumnya. Adapun jumlahnya terbagi menjadi sektor residensial/perumahan sebanyak 2.352, bisnis sebanyak 196, industri sebanyak 17, pemerintah sebanyak 38, dan sosial sebanyak 170.

Fabby pun mengatakan hingga kini, angka pengguna PLTS Atap yang dihimpun dari data PLN kurang lebih mencapai 3.500 pengguna PLTS Atap yang merupakan pelanggan PLN dengan net metering. Ia menilai jumlahnya bisa lebih besar, sebab banyak pengguna PLTS Atap dari pelanggan PLN yang tidak tersambung jaringan PLN (off grade).

(akn/hns)