Lebih Dekat Melihat Pabrik Aluminium yang Jadi Pemain Utama Pasar RI

Angga Laraspati - detikFinance
Rabu, 30 Jun 2021 12:15 WIB
Pabrik Inalum di Kuala Tanjung
Foto: dok. Inalum
Sumatera Utara -

Indonesia boleh berbangga, sebab pabrik peleburan aluminium yang berada di Kuala Tanjung, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara menjadi pemain penting dalam produksi aluminium dalam negeri. Di tempat ini kurang lebih 250.000 ton aluminium per tahun diproduksi untuk kebutuhan industri dalam negeri.

Di atas tanah seluas kurang lebih 200 hektare inilah, aluminium dengan berbagai jenis mulai dari ingot, alloy hingga billet dibuat dengan aktivitas pabrik yang tak ada hentinya selama 24 jam penuh. Lalu seperti apa kondisi 'markas' PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) ini?

Tim detikcom berkesempatan mengunjungi langsung pabrik Inalum yang letaknya hanya 2 jam dari Bandara Kualanamu di Medan. Salah satu bagian dari pabrik, terdapat sebuah gedung yang berkonsep green smart building. Bangunan megah ini berdiri di atas lahan seluas 2,37 hektare dan memiliki desain yang state of the art. Bangunan ini disebut mampu untuk menampung kurang lebih 200 karyawan Inalum.

Akses menuju pabrik Inalum juga menjadi akses truk logistik yang akan memuat kargonya ke Pelabuhan Kuala Tanjung. Pelabuhan ini menjadi salah satu proyek yang digadang-gadang punya potensi arus bongkar muat yang besar.

Tak jauh dari situ, juga terdapat sebuah pelabuhan yang dimiliki oleh Inalum. Pelabuhan ini menjadi tempat bongkar muat bahan baku impor yaitu alumina. Alumina ini akan dikirim melalui sebuah conveyor belt menuju ke beberapa silo yang menjulang tinggi di area pabrik.

Pabrik Inalum memiliki 3 bagian yang meliputi pabrik karbon, pabrik reduksi, hingga pabrik pencetakan. Masing-masing dari 3 bagian tersebut mempunyai peran penting dalam proses pembuatan aluminium.

"Carbon plant (pabrik karbon) adalah pabrik yang membuat anoda (salah satu bahan baku pembuatan aluminum) dalam bentuk campuran beberapa material tambang yang selanjutnya dibentuk kotak dan diberi tangkai untuk sebagai elektroda pada tungku peleburan," ujar Deputy Corporate Secretary Inalum Mahyaruddin Ende kepada detikcom di Pabrik Inalum beberapa waktu lalu.

Di pabrik ini, balok anoda yang berukuran sekitar 1.500 x 920 mm dengan berat sekitar 1.400 kg tersebut diangkut menggunakan sebuah crane besar yang menjejerkan balok anoda di sebuah gudang berukuran besar. Nantinya balok tersebut akan diangkut menggunakan kendaraan ke sebuah lapangan yang disebut 'block handling car'.

Selanjutnya anoda-anoda tersebut akan dicampur dengan bahan baku lainnya di pabrik reduksi untuk dijadikan aluminium cair. Tim detikcom pun berkesempatan untuk mendatangi pabrik reduksi tersebut.

Sejak awal petugas sudah mewanti-wanti hawa panas di sekitar lokasi. Benar saja, ketika masuk ke dalam pabrik, suhu panas langsung terasa.

Pabrik Inalum di Kuala TanjungPabrik Inalum di Kuala Tanjung Foto: Pradita Utama/detikcom

Bagaimana tidak, kurang lebih ada sekitar 400 tungku beroperasi dari 510 kapasitas tungku di dalam pabrik. Masing-masing tungku mempunyai suhu yang ekstrim yaitu sekitar 960 derajat celcius. Tungku-tungku ini juga harus terus beroperasi 24 jam agar tidak terjadi kerusakan yang tidak diinginkan.

Ketika sudah jadi, aluminium cair akan dibawa menggunakan 'metal transport car' menuju pabrik pencetakan yang akan menghasilkan 3 jenis aluminum.

"Inalum memiliki satu produk yang sudah diproduksi sejak Inalum pertama berdiri yaitu ingot serta dua produk unggulan yang baru diproduksi sejak 2017 yaitu billet dan alloy. Dua produk unggulan ini yang menjadi concern management untuk meningkatkan nilai tambah perusahaan," tutur Ende.

Pabrik Inalum di Kuala TanjungPabrik Inalum di Kuala Tanjung Foto: Pradita Utama/detikcom

Ada hal menarik yang ditemui tim detikcom ketika berada di pabrik Inalum. Berbeda dari pabrik di sekitarnya, pabrik ini tidak mengeluarkan asap yang banyak mengepul.

Usut punya usut, ternyata Inalum memiliki sebuah sistem untuk mengubah gas Hidrogen Florida yang diubah menjadi karbondioksida. Sistem tersebut disebut dengan Gas Cleaning System yang ada di pabrik peleburan.

Sistem ini dibuat untuk menghindari polusi yang disebabkan oleh gas buang termasuk fluoride dan debu dari pabrik reduksi serta SOx dan tar dari Pabrik Pemanggang Anoda. Pabrik peleburan juga memiliki 27 unit dry scrubbing yang terhubung ke tiga jalur pot.

Untuk pengolahan emisi gas, alumina disemprotkan ke aliran gas yang mengandung fluoride sehingga hampir semua fluoride dalam gas bereaksi dengan alumina dan terserap.

Alumina yang diperkaya fluoride dan partikulat lainnya kemudian dikembalikan ke tungku peleburan. Sementara gas bersih dibuang melalui cerobong.

Hasilnya ada gas karbondioksida yang dapat ditangkap oleh pohon-pohon yang ada di sekitar pabrik. Sehingga mampu menghasilkan oksigen yang baik bagi pekerja maupun warga di sekitar pabrik.

Pabrik Inalum juga menerapkan prinsip 3R yaitu recycle, reuse, dan juga reduce. Prinsip-prinsip tersebut dipraktikkan melalui penggunaan kembali air yang sudah dipakai di pabrik sehingga mengurangi pemakaian air.

"Inalum menggunakan kembali air dari pabrik untuk meminimalkan penggunaan air dari luar," tutur Ende.

Ende juga mengatakan Inalum terus menjalankan protokol kesehatan yang ketat selama pandemi. "Dengan protokol kesehatan yang ketat kami bisa mempertahankan produksi dan tetap berkontribusi kepada negara" tambahnya.

detikcom bersama BUMN Holding Industri Pertambangan Mining Industry Indonesia (MIND ID) mengadakan program Jelajah Tambang berisi ekspedisi ke daerah pertambangan Indonesia. detikcom menyambangi kota-kota industri tambang di Indonesia untuk memotret secara lengkap bagaimana kehidupan masyarakat dan daerah penghasil mineral serta bagaimana pengolahannya. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/jelajahtambang

(ega/ara)