Mengulas Proyek yang Bikin TKA China Masuk RI saat PPKM Darurat

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Selasa, 06 Jul 2021 12:57 WIB
Kedatangan rombongan Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China di Bandara Internasional Soekarno-Hatta jadi sorotan.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Masuknya 20 tenaga kerja asing (TKA) China ke Indonesia membuat publik heboh. Kabar masuknya TKA China ini saat pemerintah menginjak 'rem' dalam-dalam untuk menangani pandemi COVID-19 melalui PPKM darurat.

Belakangan diketahui, TKA ini ke Indonesia dalam rangka uji coba Proyek Strategis Nasional (PSN) PT Huady Nickel-Alloy di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan.

Seperti dikutip dari laman Huadi, Selasa (6/7/2021), PT Huadi Nickel-Alloy Indonesia merupakan perusahaan yang memulai investasinya di bidang industri dan pemurnian mineral nikel. Pengolahan tersebut dibangun di area seluas 50 hektar yang masuk dalam Kawasan Industri Bantaeng.

Dijelaskan, pada fase pertama yakni dua tanur 16.500 KVA dioperasikan dengan investasi US$ 100 juta. Kapasitas produksi tahunan sebesar 50.000 ton feronikel.

Pada fase kedua, empat tungku 33.000 KVA akan dimasukkan ke dalam proses produksi. Dengan menggunakan proses RKEF kapasitas produksi tahunan akan mencapai 300.000 ton nikel-besi. Ke depan, perusahaan akan investasi dalam proyek stainless steel.

"HNI menggunakan peralatan peleburan dan sintering matang dari Tiongkok dan teknologi peleburan matang di Tiongkok untuk mengubah sumber daya bijih nikel Indonesia menjadi bahan baku utama untuk peleburan stainless steel, yaitu feronikel," bunyi keterangan dalam laman tersebut.

Sementara, dalam lampiran Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2020 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN) memuat sejumlah PSN yang dikebut pemerintah.

Kawasan Industri Bantaeng di Sulawesi Selatan masuk dalam daftar PSN di sektor kawasan. Sementara, program pembangunan smelter juga masuk dalam lampiran pada daftar Program PSN.

Dalam pencarian di laman Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP), proyek smelter di Banteng menelan investasi Rp 2 triliun. Proyek itu menggunakan skema pendanaan swasta dan ditargetkan operasi tahun 2018. Status terakhir untuk proyek tersebut sudah selesai.

Sementara, untuk Kawasan Industri Bantaeng, investasi yang ditelan mencapai Rp 45,5 miliar. Status terakhir proyek tersebut ialah konstruksi dan akan beroperasi di atas tahun 2019.

Sebagai informasi, berdasarkan hasil koordinasi dengan Pengawas Ketenagakerjaan Disnakertrans Provinsi Sulsel, disampaikan bahwa 20 orang tersebut datang sebagai calon TKA dalam rangka uji coba kemampuan dalam bekerja pada Proyek Strategis Nasional PT Huady Nickel-Alloy Kabupaten Bantaeng. Hal itu seperti diatur dalam Perpres 109 Tahun 2020.

"Pada lampiran nomor urut 96 memang Kawasan Industri Bantaeng, Provinsi Sulawesi Selatan, merupakan salah satu dari Proyek Strategis Nasional yang ada dalam Perpres dimaksud," kata Kepala Biro Humas Kemnaker, Chairul Fadly Harahap.

Hingga saat ini, proses pelayanan penggunaan TKA untuk permohonan baru disebut masih tetap dihentikan sementara. Hal itu dikecualikan bagi TKA yang bekerja pada Proyek Strategis Nasional (PSN) dan obyek vital strategis/nasional.

Berdasarkan Surat (SE) Edaran Nomor M/3/HK.04/II/2021 tentang Pelayanan Penggunaan TKA dalam Upaya Pencegahan masuknya Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), maka untuk sementara proses pelayanan penggunaan TKA untuk permohonan baru masih dihentikan.

"Penghentian sementara sebagaimana dimaksud dalam angka 1 dikecualikan bagi TKA yang bekerja pada PSN dan objek vital strategis/nasional berdasarkan pertimbangan atau izin khusus tertulis dari kementerian/lembaga terkait," kata Chairul.

Tonton video 'Luhut Ungkap Alasan RI Perbolehkan WNA Masuk di Tengah Darurat Corona':

[Gambas:Video 20detik]



(acd/zlf)