Umur Boleh Bangkotan, tapi PLTA Ini Masih Tokcer Lho

Angga Laraspati - detikFinance
Rabu, 25 Agu 2021 13:45 WIB
Uang kertas Rp 100 yang diproduksi BI pada tahun 1984 tampilkan Bendungan Tangga yang ada di Sumut. Bendungan ikonik itu difungsikan sebagai PLTA milik Inalum.
Foto: Pradita Utama
Kabupaten Asahan -

Dua Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang terletak di Sungai Asahan, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara memang punya umur yang lawas atau tua. Tapi, kecanggihan teknologi dan juga output listrik dari dua PLTA ini luar biasa patut diacungi jempol.

Dua PLTA ini adalah PLTA Siguragura dan juga PLTA Tangga yang masing-masing punya andil yang cukup besar dalam proses produksi salah satu pabrik aluminium besar. Beberapa waktu yang lalu, detikcom pun berkesempatan untuk mengunjungi 2 PLTA ini.

Kunjungan pertama kami yaitu mendatangi PLTA Siguragura yang dibangun pada 1978 dan mulai beroperasi di tahun 1981. Punya tinggi sekitar 43 meter dengan kapasitas debit air normal hingga 105,4 meter kubik per detik.

Bendungan ini memiliki 4 generator yang letaknya 200 meter di bawah permukaan tanah. Untuk masuk ke tempat ini, kami harus melewati terowongan sepanjang 1 kilometer. Walau di dalam tanah, tetapi hawa dingin tetap menyertai.

Di bagian generator, ada 4 lantai yang mempunyai peran berbeda-beda. Di lantai paling atas, merupakan level atas generator dengan lampu indikator angka 1 hingga 4. Lampu indikator tersebut sebagai petunjuk apakah generator beroperasi dengan baik.

Sedangkan untuk lantai selanjutnya merupakan bagian-bagian dari generator yang memiliki bunyi cukup kencang. Kami pun tidak diizinkan untuk mendekat ke generator-generator tersebut untuk alasan keselamatan.

4 generator ini ternyata mampu menghasilkan listrik yang besar yaitu sekitar 71,5 MW per unitnya. Sehingga, PLTA Siguragura dapat menghasilkan listrik sebesar 286 MW.

Kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke satu PLTA lagi, yaitu PLTA Tangga yang letaknya tak terlalu jauh dari PLTA Siguragura. PLTA Ini bisa dikatakan sebagai PLTA yang melekat dengan sejarah Indonesia, sebab PLTA yang beroperasi pada 1982 ini sempat muncul pada gambar di uang kertas Rp 100 yang diproduksi Bank Indonesia pada tahun 1984.

Uang kertas Rp 100 yang diproduksi BI pada tahun 1984 tampilkan Bendungan Tangga yang ada di Sumut. Bendungan ikonik itu difungsikan sebagai PLTA milik Inalum.Uang kertas Rp 100 yang diproduksi BI pada tahun 1984 tampilkan Bendungan Tangga yang ada di Sumut. Bendungan ikonik itu difungsikan sebagai PLTA milik Inalum. Foto: Pradita Utama

Meski sudah berumur puluhan tahun, PLTA Tangga masih tetap berdiri dengan kokoh. Alam di sekitarnya pun tetap dijaga hijau dan rimbun, sehingga menambahkan kesan asri dan nyaman ketika kami mengunjungi tempat ini.

Bendungan ini seakan menjadi bangunan megah di tengah hutan hijau. Angin semilir pun menyambut tim detikcom diiringi hawa sejuk.

Pantauan detikcom, bendungan ini berada di pertemuan dua aliran Sungai Asahan. Selain itu, lingkungan yang berada di sekitar bendungan juga tetap asri dan menjadikannya sebagai bendungan yang indah dipandang.

Bendungan ini memiliki tinggi 82 meter dengan debit air normal 111,9 m kubik per detik. Bangunan yang terbuat dari beton ini memiliki bentuk cekungan atau yang biasa disebut dengan bendungan tipe busur. Karenanya, bendungan Tangga menjadi bendungan dengan tipe busur pertama di Indonesia.

PLTA milik Inalum ini memiliki pusat listrik di permukaan tanah dengan 4 generator. Masing-masing generator mampu menghasilkan listrik sebesar 79,2 MW.

"PLTA Tangga menjadi PLTA milik Inalum yang memiliki kapasitas listrik yang besar. PLTA ini mampu menghasilkan listrik hingga 317 MW," ungkap Deputy Corporate Secretary Inalum Mahyaruddin Ende kepada detikcom beberapa waktu lalu.

PLTA ini juga menjadi sumber untuk air terjun tertinggi yang ada di Indonesia yaitu Air Terjun Ponot atau Siguragura. Memiliki tinggi sekitar 250 meter, menjadikan air terjun ini lebih tinggi dari Monumen Nasional yang ada di Jakarta dengan tinggi hanya 132 meter.

Uang kertas Rp 100 yang diproduksi BI pada tahun 1984 tampilkan Bendungan Tangga yang ada di Sumut. Bendungan ikonik itu difungsikan sebagai PLTA milik Inalum.Uang kertas Rp 100 yang diproduksi BI pada tahun 1984 tampilkan Bendungan Tangga yang ada di Sumut. Bendungan ikonik itu difungsikan sebagai PLTA milik Inalum. Foto: Pradita Utama

Dari kedua PLTA inilah, sumber listrik yang dihasilkan mampu mencapai 603 MW dan langsung dialirkan ke pabrik peleburan aluminium milik PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) yang berada di Kuala Tanjung.

"Dari PLTA Siguragura dan PLTA Tangga itu listrik yang dihasilkan mencapai 603 MW. Semuanya langsung dialirkan menuju ke pabrik peleburan yang ada di Kuala Tanjung dengan jaringan transmisi sepanjang 120 KM dengan jumlah menara 271 buah dan tegangan listrik 275 KV," jelas Ende.

Nantinya pabrik alumunium di Kuala Tanjung akan menangkap aliran listrik tersebut dengan sebuah gardu listrik yang akan didistribusikan ke tiga gedung tungku reduksi dan gedung penunjang lainnya melalui 6 unit Silicon Rectifier pada masing-masing gedung Reduksi dengan kapasitas arus searah 37 kA dan 800 V untuk masing-masing unit Silicon Rectifier.

PLTA yang dijadikan sebagai sumber listrik juga masuk ke dalam harapan Kementerian ESDM yaitu penggunaan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebagai sumber listrik.

Dalam peluncuran HSBC Energy Transition Project di Indonesia Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), beberapa waktu lalu Menteri ESDM Arifin Tasrif menuturkan Indonesia berkomitmen untuk mengatasi isu terkait akses energi, smart and clean technology, dan pembiayaan di sektor energi untuk menurunkan emisi Gas Rumah Kaca.

Arifin menegaskan aksi mitigasi yang berperan paling besar dalam upaya penurunan GRK di sektor energi adalah pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Pemerintah terus berusaha untuk menaikkan porsi EBT pada bauran energi, khususnya pada sektor ketenagalistrikan.

Saat ini, bauran EBT baru mencapai 11,2 % dan masih berada di bawah target bauran energi tahun 2025 sebesar 23%. Padahal potensi EBT yang mencapai lebih dari 400 Gigawatt (GW). Itu pun baru dimanfaatkan sebesar 10 GW atau 2,5% dari total cadangan.

"Saat ini Kementerian ESDM telah menyusun Grand Strategi Energi Nasional (GSEN) yang diharapkan mampu membuahkan solusi untuk tantangan ketahanan dan kemandirian energi nasional dan menjadi jawaban tantangan yang saat ini dihadapi, antara lain keterbatasan pengembangan EBT dan tuntutan pembangunan infrastruktur yang lebih masif dan tepat guna," ujar Arifin dilansir dari website resmi Kementerian ESDM, Rabu(14/8/2021).

Saat ini, draft rancangan undang-undang (RUU) tentang tentang Energi Baru dan Terbarukan (RUU EBT) juga tengah digodok pengerjaannya dan ditargetkan rampung akhir pada kuartal akhir tahun 2021.

(ega/hns)