PGE Bisa Tekan Emisi Karbon Hingga 2,6 Juta Ton/Tahun

Jihaan Khoirunnisaa - detikFinance
Kamis, 26 Agu 2021 19:12 WIB
Pertamina Geothermal Energy
Foto: Pertamina
Jakarta -

Pertamina, melalui PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) sebagai bagian dari Subholding Power & New Renewable Energy (PNRE) terus mengupayakan pengurangan emisi lewat mekanisme Clean Development Mechanism (CDM). Ini dalam rangka mendukung target pengurangan emisi karbon sebesar 39% di tahun 2030.

CDM merupakan proyek dengan fungsi menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang dapat bermanfaat secara ekonomi serta mengurangi pemanasan global demi mendukung pembangunan berkelanjutan.

"Ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Indonesia dalam dokumen Intended Nationally Determined Contribution (INDC) yang disampaikan pada Konferensi Iklim PBB tahun 2015 (COP-21) di Paris," ujar Corporate Secretary PT Pertamina Geothermal Energy, Muhammmad Baron dalam keterangan tertulis, Kamis (26/8/2021).

Baron menyebut, saat ini PGE saat ini mengelola 15 wilayah kerja dengan total kapasitas terpasang panas bumi sebesar 1.877 MW (termasuk Joint Operation Contract - JOC). Diungkapkannya beberapa potensi pengurangan emisi tersebut sudah masuk dalam mekanisme CDM di United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).

UNFCCC adalah perjanjian lingkungan yang ditandatangani oleh negara-ngeara yang tergabung di PBB pada tahun 1992. Perjanjian ini bertujuan untuk mengontrol tingkat emisi gas rumah kaca di atmosfer sampai tingkat yang mampu mencegah campur tangan manusia dengan sistem iklim.

Menurut Baron, upaya pengurangan emisi karbon ini juga terdapat dalam 7 Proyek Carbon Credit PGE yang dimulai sejak tahun 2010. Adapun ke-7 proyek tersebut terdiri dari Proyek Clean Development Mechanism (CDM), Verified Carbon Standard (VCS) dan Gold Standard sebagai premium label Proyek CDM.

Potensi Ekonomi Carbon Credit

Selain berdampak positif bagi lingkungan, ia menyebut pengelolaan karbon yang tepat juga dapat memberikan potensi ekonomi. Meski saat ini terdapat tantangan penurunan harga jual carbon credit yang signifikan pasca berakhirnya protokol Kyoto. Dengan meningkatnya tingkat kepedulian dunia terhadap pemanfaatan energi bersih dan pengurangan emisi karbon, Baron berharap pasar CDM bisa lebih baik dan lebih stabil pada tahun-tahun mendatang.

Baron menjelaskan saat ini terdapat 5 proyek carbon credit di PT Pertamina Geothermal Energy berjenis Clean Development Mechanism Gold Standard (CDM-GS). Pertama, proyek Kamojang Unit 4 dan 5 yang memiliki potensi pengurangan karbon masing-masing sebesar 400 ribu ton per tahun dan 156 ribu ton per tahun.

Lalu, ada proyek Karaha Unit 1 dengan potensi pengurangan karbon hingga 156 ribu ton setiap tahun, Lumut Balai Unit 1 & 2, Lumut Balai Unit 3 & 4, serta Ulubelu Unit 3 & 4. Semua proyek tersebut telah memiliki sertifikasi premium label 'Gold Standard', sehingga nilai jual kredit karbon bisa lebih dimaksimalkan. Untuk pengelolaan CDM-GS dilakukan bersama SouthPole Carbon Assets Management, Ltd. (SPCAM).

Di samping itu, ada juga proyek carbon credit berjenis Verified Carbon Standard (VCS) untuk Lahendong Unit 5 & 6. Proyek ini awalnya merupakan proyek CDM yang kemudian diubah menjadi VCS karena potensi harga jual carbon credit-nya menjadi lebih tinggi yang saat ini dalam tahap persiapan verifikasi dan penjualan.

Adapun VCS yaitu sertifikat proyek penurunan emisi gas rumah kaca yang dibuat oleh lembaga non komersil The Climate Group, International Emissions Trading Association (IETA), The World Economic Forum, dan The World Business Council for Sustainable Development pada tahun 2005. Sertifikasi ini menitikberatkan pada nilai tambah berupa pengembangan metodologi-metodologi baru di luar CDM dengan mekanisme yang relatif lebih sederhana dan biaya transaksi yang lebih murah. Dari semua proyek tersebut, maka secara keseluruhan PGE diproyeksikan bisa mengurangi emisi karbon sampai 2.6 juta ton per tahun.

(mul/mpr)