DPR Sentil PLN Masuk Bisnis Internet, Begini Pembelaan Erick Thohir

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 30 Agu 2021 18:45 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

PT PLN (Persero) belum lama ini meluncurkan layanan internet kabel atau broadband jaringan fiber optic bernama Iconnet. Layanan itu dikelola oleh anak usahanya PT Indonesia Comnets Plus (ICON+).

Bisnis baru PLN ini disoroti anggota DPR Komisi VI Herman Khaeron. Dia khawatir langkah PLN ini justru terkesan ingin menabrak dan bersaing dengan PT Telkom yang memang memiliki inti bisnis telekomunikasi.

Apalagi, layanan Iconnet yang diberikan PLN jauh lebih murah dengan yang dikeluarkan Telkom. Belum lagi Herman mengatakan ada juga rencana PLN melakukan bundling pelanggan listrik PLN sebanyak 70 juta pelanggan dengan Iconnet.

"Apakah ini nggak akan bertabrakan dengan Telkom, pak Erick? Oleh karena itu saya belum setuju sebetulnya kalau ditabrak-tabrakkan usaha BUMN begini," ungkap Herman dalam rapat kerja Komisi VI dengan Menteri BUMN Erick Thohir, Senin (30/8/2021).

Dia menilai kompetisi yang terjadi juga tidak akan sehat. Di satu sisi, Iconnet sebagai usaha baru apalagi yang bukan inti bisnis PLN jelas tidak akan mampu memberikan layanan sebaik Telkom yang usaha intinya adalah telekomunikasi.

Di sisi lain, tak mungkin Telkomsel juga menurunkan harga layanannya semurah Iconnet. Nanti justru menjadi tidak ekonomis.

Herman justru mengusulkan, layanan Iconnet ada baiknya dibagi dua saja. 51% kepemilikan diberikan kepada Telkom sebagai pengendali. Sisanya, 49% tetap dipegang PLN agar bisa mendapatkan untung sebagai bisnis sampingan.

"Saya sarankan begini, bisa saja mungkin dibeli 51% sama Telkom saja. Sisanya, 49% milik PLN tetap, kan jadinya PLN bisa dapat juga dapat untung," kata Herman.

Erick Thohir pun menjawab sorotan dari Herman Khaeron. Menurutnya apa yang dilakukan PLN memang sudah masuk ke dalam catatan kementerian. Hal ini menyangkut klasterisasi atau penggolongan BUMN.

"Memang ada catatan kondisi beberapa BUMN yang mengembangkan usaha di luar klasterisasi. Jujur, ada satu dua BUMN yang di luar klasterisasi. Benar, pembicaraan internal kami memang ada Icon Plus dengan Telkom," ungkap Erick.

Meski tak blak-blakan, Erick mengatakan bisa saja ada kemungkinan dua bisnis ini dikonsolidasikan. Beberapa BUMN dengan usaha yang sama juga sudah banyak dilakukan konsolidasi.

"Ketika kita konsolidasikan, BUMN juga kan punya hotel, lalu kalau ada rumah sakit juga bagaimana ini dikonsolidasikan. Bagaimana kita mau ini jadi efektif dan sinkron," papar Erick.

(hal/eds)