Dulu Tergantung Hujan, Kini Petani Andalkan PLTS buat Airi Sawah

Nurcholis Maarif - detikFinance
Selasa, 31 Agu 2021 20:45 WIB
PLTS - PLTMH Muara Enim
Foto: Rengga Sancaya / detikcom
Jakarta -

Penerapan energi baru dan terbarukan (EBT) menjadi perbincangan yang serius di tengah pemanasan global yang melanda dunia, termasuk Indonesia. Kehadiran EBT yang bersumber dari panas matahari hingga aliran air itu pun sudah banyak dirasakan manfaatnya bukan hanya oleh masyarakat kota, tetapi juga perdesaan.

Sebagai informasi, saat ini Pemerintah Indonesia melalui Kementerian ESDM memiliki target bauran EBT sebesar 20% pada tahun 2025. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mencapai target tersebut ialah dengan mendorong pengembangan PLTS atap atau rooftop karena dinilai tidak memerlukan penyewaan lahan yang luas dan tidak memerlukan investasi yang besar.

Tak hanya untuk sebagai sumber listrik bagi warga untuk menerangi rumah, PLTS juga ternyata bisa bermanfaat untuk mendukung ketahanan pangan. Hal itulah yang dialami Kelompok Tani Sehati yang ada di Desa Tanjung Reja, Kecamatan Muara Enim, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.

PLTS untuk Irigasi Sawah

Sebelumnya kelompok tani yang beranggotakan 30 petani ini hanya memanfaatkan air hujan sebagai sumber utama pengairan sawah. Hal itu pulalah yang menyebabkan lahan sawah yang digarap para petani hanya bisa panen satu kali karena mengikuti musim penghujan dan beberapa kali terancam gagal panen.

Bahkan beberapa lahan sudah tak lagi digarap sebagai sawah. Saat ini hanya 20 hektare dari 60 hektare saja yang digarap untuk sawah. Selain itu akses ke sumber air juga terlampau sulit didapat karena kawasan sawah ini dikelilingi perbukitan hingga terhalang jalan raya dan stasiun kereta ke sumber air terdekat, yaitu Sungai Enim.

"Kalau selama ini (mengandalkan) air tadah hujan, karena sumber air kita yang terdekat itu Sungai Enim sekitar 1 km," ujar Ketua Kelompok Tani Sehati Hopaini kepada detikcom belum lama ini.

"Kalau tempat air yang lain misalnya embung nggak ada. Ada dari sini sekitar 3 km, lebih jauh lagi. Sebelum perencanaan (pemasangan PLTS) ke Sungai Enim, kita ambil di sana bekas eks tambang ada embung besar, mau alirkan, tapi terlampau jauh karena 3 km," imbuhnya.

PLTS - PLTMH Muara EnimFoto: Rengga Sancaya / detikcom

Belum lama ini, Kelompok Tani Sehati mendapat bantuan CSR dari PT Bukit Asam Tbk berupa PLTS yang digunakan sebagai sumber irigasi sawah. PLTS berkapasitas 16,5 Kw ini berdiri di atas jembatan yang menjadi jalan lalu lalang warga.

Listrik yang dihasilkan dari PLTS tersebut digunakan untuk memompa air dari Sungai Enim menuju lahan persawahan dengan panjang pipa hingga 1 km dan ketinggian dari sungai hingga bak penampungan air sebesar 30 meter. Pipa dengan ketebalan 6 mm tersebut ditanam di dalam tanah dengan kedalaman 1-1,5 meter dan melewati jalan raya hingga gorong-gorong stasiun kereta api di atasnya.

PLTS pertama di Sumsel yang digunakan untuk irigasi sawah tersebut diresmikan Gubernur Sumatera Selatan pada bulan Maret lalu. Saat detikcom berkunjung ke sana, saat ini petani sedang memasuki musim panen pertama pasca pengoperasian PLTS tersebut.

"Selama ini kita kan bisa tanam paling satu kali satu tahun, diharapkan dengan adanya irigasi ini bisa 2 sampai 3 kali panen. Jadi kalau istilah dari Dinas Pertanian itu, kita yang pertama dari IP200, kita tingkatkan IP300 atau IP400. Jadi 2 tahun 5 kali panen, target ke depannya, kalau kebutuhan air memungkinkan target kita seperti itu," ujar Hopaini.

"Lahan-lahan yang belum tergarap ini waktu pengolahan kemarin airnya belum masuk, hujannya agak kurang, maka mereka tinggalkan. Tidak menutup kemungkinan dengan adanya air sudah mencukupi, mereka itu mau menggarap lahan yang belum tergarap selama ini," imbuhnya.

PLTMH Listriki Desa di Pelosok Sumsel

PLTS - PLTMH Muara EnimFoto: Rengga Sancaya / detikcom

Masih dari desa di daerah Sumatera Selatan, kehadiran EBT dalam bentuk pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) membawa asa penerangan buat Desa Plakat, Kecamatan Semende Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim.

Desa Plakat merupakan salah satu desa terpencil yang ada di Sumatera Selatan. Dari pusat kabupaten, Desa Plakat bisa ditempuh kurang lebih selama 4 jam. Sedangkan dari pusat pemerintahan provinsi di Palembang, desa ini ditempuh kurang lebih 8 jam. Hal itu belum ditambah dengan akses jalan naik turun perbukitan dan beberapa ruas jalan yang masih rusak.

Karena lokasinya yang terpencil dan tidak memungkinkan mendapat listrik dalam waktu dekat saat itu, pada tahun 2012 Desa Plakat terpilih menjadi salah satu desa yang akan mendapat penerangan dari Yayasan Al-Azhar Peduli Ummat. Yayasan ini kemudian menggandeng PT Bukit Asam Tbk melalui CSR-nya untuk mendanai pengadaan PLTMH.

Berada di atas ketinggian di atas 1.000 mdpl dan memiliki potensi aliran air membuat pengadaan PLTMH menjadi solusi sebagai sumber listrik penerangan warga. Kepala Desa Pelakat, Kohapa menjelaskan sebelumnya warga hanya memanfaatkan lampu teplok untuk penerangan. Lalu seiring berjalannya waktu, masyarakat patungan memanfaatkan kincir air sebagai sumber listrik.

"Kincir air itu pun nggak semuanya pada menikmati, hanya orang tertentu saja yang berkemampuan patungan mendirikan kincir angin. Itu kisaran dari total Desa Plakat cuma teraliri 30%, artinya lebih dari 70% rumah di sini gelap gulita," ujarnya kepada detikcom belum lama ini.

"Pindah ke turbin, Alhamdulillah 75% teraliri penerangan, itu dari tahun 2008 sampai 2012, kita menggunakan sistem turbin. Kemudian pada tahun 2013 baru pakai PLTMH," imbuhnya.

PLTS - PLTMH Muara EnimFoto: Rengga Sancaya / detikcom

PLTMH berkapasitas 35 KW tersebut dimanfaatkan untuk melistriki sekitar 125 rumah warga yang ada di Desa Plakat. Bahkan listrik itu masih surplus dan digunakan untuk sarana umum seperti sekolah SD dan SMP, rumah ibadah, dan kantor desa.

"(Masyarakat) wajib harus setor itu kita punya iuran dulunya 1 kg kopi per bulan, sekarang beralih ke Rp 15 ribu, karena harga kopi kan naik turun nggak menentu, kadang harganya naik, kadang harganya turun. Dari Rp 15 ribu per satu orang manfaat listrik ini 50% untuk kas, 50% untuk personal bagi operator yang menjalankan, ada 3 orang. Jadi dia shift-shiftan," ujarnya.

Atas inovasi PLTMH-nya tersebut, desa yang terkenal dengan kopi Semendo-nya ini beberapa kali mendapat penghargaan, di antaranya Juara 1 Desa Proklim Tingkat Nasional Kategori Utama pada tahun 2015 dan Desa Proklim Kategori Lestari pada tahun 2020. Belum lama ini, jaringan listrik milik PLN sudah mulai masuk ke Desa Plakat dan bahkan diresmikan oleh Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru pada bulan Juli 2021 lalu.

Menurut salah satu operator PLTMH Desa Plakat, Nashrullah, masyarakat masih menggunakan PLTMH ini sebagai sumber penerangan karena dinilai lebih murah. Adapun listrik PLN juga digunakan tapi untuk alat-alat elektronik yang memerlukan daya yang lebih besar seperti kulkas dan magic com.



Simak Video "Jawa Barat Kembangkan Energi Alternatif Ramah Lingkungan"
[Gambas:Video 20detik]
(ncm/hns)