Ingat Lagi Wacana BBM Premium Mau Dihapus, Jadi Nggak Sih?

Siti Fatimah - detikFinance
Senin, 20 Sep 2021 11:56 WIB
Warga membeli bbm subsidi jenis premium di SPBU Pertamina, Otista, Jakarta Timur, Jumat (15/11/2019). Pertamina berharap penyaluran BBM Bersubsidi tepat sasaran. Sebab yang terjadi di lapangan hingga kini BBM Bersubsidi masih banyak dikonsumsi oleh masyarakat yang secara ekonomi tergolong mampu.
Ingat Lagi Wacana BBM Premium Mau Dihapus, Jadi Nggak Sih?
Jakarta -

Wacana mengenai penghapusan bahan bakar minyak (BBM) untuk jenis bensin Premium sudah lama terdengar. Namun eksekusinya sampai hari ini belum jelas.

Berdasarkan data Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), serapan Premium sampai Juli 2021 lalu baru mencapai 2,71 juta kilo liter (kl) atau hanya 27,18% dari kuota tahun ini sebesar 10 juta kl. Artinya, realisasi penyerapan bensin Premium hingga Juli 2021 masih jauh dari kuota yang telah ditetapkan pemerintah tahun ini.

Lalu apakah Premium benar-benar sudah perlahan dihapus?

Kilas balik mengenai wacana ini, dalam catatan detikcom, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sempat mengajak masyarakat meninggalkan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium. Sebagai gantinya, masyarakat bisa memilih jenis Pertalite atau Pertamax yang memiliki kualitas lebih bagus.

"Itu kita baru bikin program langit biru, untuk mengajak masyarakat mendidik supaya meninggalkan premium," kata Ahok kepada wartawan ditemui di rumah dinas Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka Loji Gandrung, Rabu malam (7/4/2021) lalu.

"Secara kualitas kan kurang baik, sementara kalau orang memakai Pertalite atau Pertamax itu akan lebih hemat sebetulnya. Sekarang kendaraan dirancang bukan untuk premium," sambungnya.

Saat itu, dia menyebutkan secara perlahan akan mengurangi pasokan Premium di perkotaan, maka penggunaan Premium bisa digantikan dengan jenis lain. Seperti di Jawa Tengah (Jateng) pemakaian BBM Premium mulai berkurang, karena masyarakat makin sadar terkait efek bagi lingkungan dan biaya membeli BBM.

"Nah ini kita bertahap (dikurangi), tapi di Jateng ini sedikit sekali yang pakai Premium. Ini dari lingkungan dan dari sisi ekonomi mungkin juga lebih baik pertamax lebih hemat," kata Ahok

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif juga menjawab kabar bahan bakar minyak (BBM) jenis premium akan dihapus saat melaksanakan rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI pada 26 Agustus lalu.

Arifin menjelaskan penjualan BBM premium di outlet-outlet atau SPBU Pertamina sudah mulai dikurangi secara pelan-pelan. "Terkait dengan roadmap BBM saat ini sesuai dengan program Langit Biru Pertamina, outlet penjualan premium mulai dikurangi pelan-pelan terutama kemarin pada saat pandemi di mana harga crude (minyak mentah) jatuh. Nah (premium) ini memang bisa dilakukan substitusi dengan pertalite," tuturnya.

Dia mengatakan, pengurangan BBM premium dikurangi untuk memperbaiki kualitas bahan bakar dan mengurangi emisi gas rumah kaca. Saat ini, kata dia, Indonesia masih termasuk empat negara di dunia yang masih menggunakan premium.

"Nah ke depannya memang kita harus menuju energi yang lebih bersih dan kita tertinggal dengan Vietnam. Kita masih (standar) Euro 2, Vietnam sudah Euro 4 dan akan masuk ke Euro 5. Juga (dibandingkan) negara-negara Asean tetangga kita, kita ketinggalan," jelas Arifin.

Untuk kepentingan jangka panjang, dengan memperhatikan perkembangan teknologi kendaraan yang menuntut kualitas BBM yang lebih baik, dia mengharapkan terjadi perpindahan konsumsi ke BBM yang memiliki kualitas lebih baik, yaitu Pertamax.

"Dalam hal ini kami mohon dukungan dari Bapak Ibu Komisi VII DPR RI bagaimana kita juga bisa merespons (soal BBM) ini dengan baik," tambahnya.

(fdl/fdl)