Pertamina Gandeng PLN, Dukung Penyediaan Listrik Kilang GRR Tuban

Erika Dyah - detikFinance
Kamis, 23 Sep 2021 21:08 WIB
Pertamina & PLN
Foto: Pertamina
Jakarta -

Pertamina tengah menjalankan serangkaian proyek kilang dan petrokimia berskala mega, salah satunya kilang Grass Root Refinery (GRR) Tuban. Guna memastikan penyediaan listrik dalam mendukung operasional kilang GRR Tuban, dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara Pertamina Rosneft dengan PT PLN (Persero).

Diketahui, perjanjian kerja sama ini meliputi rencana kajian bersama dalam penyediaan listrik untuk kebutuhan proyek GRR Tuban yang ditandatangani langsung oleh Presiden Direktur Pertamina Rosneft, Kadek Ambara Jaya dan Direktur Keuangan dan Umum, Pavel Vagero serta General Manager PLN Unit Distribusi Jawa, Adi Priyanto. Kegiatan ini turut disaksikan oleh Wakil Menteri I BUMN, Pahala Mansyuri.

Dalam sambutannya, Pahala mengatakan penyediaan listrik untuk NGRR Tuban akan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Menurutnya, sebagai sinergi BUMN, kerja sama ini juga akan memberikan manfaat terkait efisiensi nasional.

"Bagi PLN kerja sama ini akan meningkatkan serapan tenaga listrik sehingga akan meningkatkan pendapatan, sementara untuk Pertamina Rosneft kerja sama ini akan membuat lebih fokus untuk meningkatkan kompetitifnya," ujar Pahala dalam keterangan tertulis, Kamis (23/9/2021).

Sementara itu, Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional, Djoko Priyono mewakili Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati menyampaikan nota kesepahaman antara Pertamina Rosneft dan PLN akan membuka peluang untuk melaksanakan kajian bersama. Tujuannya, guna memastikan penyediaan suplai listrik hingga 20 Mega Watt (MW) selama fase konstruksi dan commissioning.

Selain itu, dari hasil kajian tersebut, nantinya akan ditentukan skema kerja sama yang paling optimal dan menguntungkan dari aspek bisnis. Ia mengatakan kerja sama ini juga mencakup penentuan penyediaan infrastruktur penunjang dan skenario konfigurasi sistem dan peralatan.

"Fase konstruksi ditargetkan akan dimulai pada triwulan ke 3 tahun 2023 dan perkiraan kebutuhan listrik GRR Tuban pada fase ini yaitu sebesar 20 megawatt. Sedangkan untuk tahapan commissioning start-up utility yang akan dimulai di tahun pada triwulan ke 2 tahun 2026 kebutuhan listrik dapat mencapai 50 megawatt," jelas Djoko.

Ia memaparkan GRR Tuban merupakan salah satu mega proyek yang saat ini menjadi perhatian Pertamina. Pembangunan Kilang Minyak yang terintegrasi dengan Komplek Petrokimia dengan kapasitas pengolahan minyak mentah sebesar 300 ribu barel per hari ini disebut akan memproduksi BBM sebesar 230 ribu barel per hari secara total, dan produk petrokimia dan aromatik sebesar 4.1 juta ton per tahunnya.

Untuk itu, pihaknya terus berupaya mempercepat progres pembangunan kilang GRR Tuban yang ditargetkan beroperasi pada 2027 mendatang. Melalui anak usaha subholding Refining & Petrochemical, PT Kilang Pertamina Internasional juga berupaya untuk memastikan tersedianya sarana dan prasarana pendukung operasional kilang GRR Tuban di bawah pengelolaan Pertamina Rosneft.

Lebih lanjut, Djoko menerangkan konfigurasi Kilang Pertamina Rosneft saat ini memerlukan kepastian jaminan operasional kilang tanpa terputusnya aliran listrik. Oleh karena itu, pasokan listrik yang andal sangat diperlukan.

"Berhentinya operasi kilang dalam 1 hari sama dengan hilangnya potensi revenue sebesar US$ 34 juta (setara dengan Rp 480 miliar) sehingga dibutuhkan jaminan suplai energi listrik terus menerus yang andal dengan 'zero total failure'," katanya.

Djoko menyebutkan kerja sama antara Pertamina Group dan PLN untuk operasional kilang BBM kali ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) meneken perjanjian kerja sama dengan PLN untuk penyediaan layanan kelistrikan pada 5 kilang Pertamina.

Adapun kelima kilang tersebut, antara lain Refinery Unit (RU) II Dumai, RU III Plaju- Sungai Gerong, RU IV Cilacap, RU V Balikpapan, dan RU VI Balongan dengan kebutuhan total daya listrik yang disuplai mencapai 217 MVA yang selanjutnya dapat bertambah 104 MVA.

Ia menjelaskan Pertamina Rosneft merupakan perusahaan patungan (joint venture) antara Pertamina Group dengan raksasa energi Rosneft asal Rusia yang menjadi pelaksana proyek strategis nasional GRR Tuban.

Kilang GRR Tuban yang berdiri di atas lahan seluas 834 hektare diharapkan akan menjadi fasilitas petrokimia terbesar di Asia Tenggara. Diketahui, kilang ini ditargetkan beroperasi tahun 2027 dan menyerap kurang lebih 27.000 tenaga kerja pada saat konstruksi, serta 2.500 tenaga kerja setelah proyek beroperasi.

Proyek GRR Tuban saat ini telah berada pada tahapan Front-end Engineering Design dengan progres per tanggal 17 September 2021 telah mencapai 34,54% vs rencana 17,83% (ahead +16,71%).

Djoko berharap dengan dukungan dari Kementerian BUMN, Kementerian ESDM dan juga PLN, realisasi dan eksekusi proyek GRR Tuban dapat berjalan dengan lancar dan sesuai target. Ia pun berharap proyek ini akan mengantarkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang mandiri dalam pemenuhan BBM maupun pemenuhan produk petrokimia.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT PLN (Persero) Zulkifli Zaini mengungkapkan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada PLN terkait penyediaan kebutuhan listrik secara andal dengan harga yang kompetitif.

Zulkifli mengungkap nota kesepahaman ini akan berlaku selama 1 (satu) tahun dan hasil kajian bersama ini akan dituangkan dalam kerja sama penyediaan listrik GRR Tuban dalam format Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik.

Ia menerangkan, pada tahap operasi, kebutuhan listrik secara total untuk kondisi normal operasi mencapai 678 megawatt melalui konfigurasi kombinasi suplai self-power generation dari kilang GRR Tuban serta electrical power grid dari PLN. Rencananya, PLN akan mensuplai hingga 500 megawatt.

Sebagai informasi, GRR Tuban menjadi salah satu proyek Kilang dan Petrokimia berskala mega yang sedang dijalankan Pertamina. Proyek ini sejalan dengan Nawacita Presiden RI untuk Mewujudkan Kemandirian Ekonomi dengan Menggerakkan Sektor-Sektor Strategis Ekonomi Domestik, serta sesuai dengan grand strategy energi nasional ke depan.

Melalui serangkaian proyek ini, Pertamina diharapkan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor produk BBM. Salah satunya, dengan meningkatkan kapasitas kilang dalam rangka optimalisasi produk BBM dan memperbaiki kualitas BBM dan Naptha. Tak hanya itu, Pertamina juga diharapkan dapat memajukan perekonomian negara Indonesia dengan melakukan ekspansi bisnis secara masif ke industri petrokimia yang saat ini masih sangat bergantung dengan impor untuk pemenuhannya.

(mul/mpr)