Perhatian! RI Mau Ekspor Listrik 300 MW, ke Negara Mana?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 28 Sep 2021 20:48 WIB
Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) mulut tambang terbesar di Asia Tenggara di Sumatera Selatan terus menunjukkan progres signifikan. Ini potretnya
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Pemerintah membuka opsi untuk ekspor listrik 300 megawatt (MW). Ekspor dilakukan melalui transmisi bawah laut dengan tenaga sebesar 400 kilo volt (KV). Listrik yang diekspor akan dibuat dari energi baru terbarukan, tepatnya energi listrik tenaga surya.

Untuk merealisasikan ekspor tersebut, pemerintah sedang melakukan pembangunan dan pengembangan Pembangkit Listrik Fotovoltaik Terapung 2.2 giga watt peak (GWp) di Waduk Duriangkang Batam, Kepulauan Riau.

Pada Juni lalu, BP Batam telah menandatangani MoU dengan Sunseap Group asal Singapura untuk pembangunan PLTS dan ekspor listrik Solar PV Terapung. Hal ini juga dilakukan sebagai bagian dari langkah strategis pemerintah Indonesia untuk memaksimalkan pemakaian energi terbarukan.

Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi Kemenkomarves Basilio Dias Araujo mengingatkan agar pengembangan ini dilakukan sesuai aturan. Sunseap sebagai joint venture harus bisa memnuhi tanggung jawabnya dari persyaratan hingga perizinannya.

"Sunseap sebagai Joint venture harus mampu penuhi tanggung jawabnya, mulai dari berbagai persyaratan sebagai importir atau eksportir listrik, lisensi dan perizinan, partisipasi dalam pasar grosir listrik internasional, hingga menyusun mekanisme komersial yang menguntungkan kedua pihak," kata Basilio dalam keterangannya, Selasa (28/9/2021).

Basilio meyakini, Indonesia kini siap bersaing dalam pasar ekspor listrik terbesar di Kawasan Asia Tenggara. Dia berharap ke depannya pasokan listrik lain dapat dibangun di seluruh wilayah di Indonesia, seperti di wilayah Sumatera dan Nusa Tenggara.

Dia juga mengatakan Indonesia memiliki target bauran energi terbarukan sebesar 23% pada tahun 2025. Sementara itu saat ini baru tercapai sebesar 12%.

"Target pencapaian bauran energi ada banyak tantangan dalam implementasinya, masih dominannya penggunaan energi fosil dan regulasi yang belum kondusif membuat kita masih perlu upaya ekstra untuk mencapai target 2025," jelas Basilio.

Kementerian ESDM sendiri mengatakan potensi tenaga surya sangat besar untuk dapat dimanfaatkan sebagai sumber listrik yang ada di Indonesia, sehingga Indonesia dapat mewujudkan kedaulatan energi.

"Sebagai bagian dari Program Strategis Nasional ESDM, kami mencermati regulasi kedua negara terkait pemenuhan listrik dalam negeri sebelum di ekspor," jelas Chrisnawan Anditya, Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan.

(hal/eds)