Bahlil Heran Perbankan Ogah Biayai Investasi Smelter, Padahal Menguntungkan

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Rabu, 29 Sep 2021 16:25 WIB
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia
Foto: Mohammad Wildan/20detik
Jakarta -

Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menyatakan investasi smelter di Indonesia sebetulnya sangat menguntungkan. Namun sayangnya tak banyak bank yang mau membiayai dan memberikan pinjaman.

"Tidak ada yang melakukan investasi smelter nikel rugi, nggak ada," ungkap Bahlil dalam webinar Forum Indonesia Bangkit CIMB Niaga, Rabu (29/9/2021).

Smelter nikel lokal menurutnya masih sedikit jumlahnya saat ini dibandingkan dengan smelter modal asing. Bahlil menjabarkan selama ini untuk investasi smelter kira-kira butuh setidaknya Rp 3-4 triliun.

Yang bikin jadi untung adalah investasi ini cepat balik modal yakni hanya butuh 3 tahun operasi. Setelah itu smelter nikel sudah bisa memberikan keuntungan. Belum lagi sektor ini sedang berkembang dan menjadi perhatian pemerintah, maka segudang insentif pun diguyur bagi pelaku usahanya.

"Orang bangun nikel smelter itu kalau dua tungku bisa sampai dengan Rp 3-4 triliun, IRR-nya tinggi, break event point-nya ini tidak lebih dari 3 tahun. Tambah lagi kita kasih tax holiday," papar Bahlil.

Sayangnya, tak banyak perbankan nasional mau membiayai dan memberi pinjaman untuk proyek smelter nikel.

Maka jangan kaget menurutnya kalau lebih banyak smelter nikel dibangun dari investasi asing, China misalnya. Yang bikin heran, kata Bahlil, setiap ada investasi asing justru jadi geger dan ribut.

"Tapi perbankan nasional kita nggak ada yang mau biayai, andaikan pun ada minta equity-nya 40%-50%. Sementara begitu investasi masuk, katakan China atau negara mana, kita ribut," kata Bahlil.

Kini komoditas nikel sedang menjadi perhatian khusus pemerintah, komoditas ini akan dihilirisasi. Fokusnya adalah dijadikan baterai listrik. Bahlil bilang nikel di Indonesia jumlahnya mencapai 25% dari total cadangan di seluruh dunia.

"Ada 25% cadangan nikel dunia di Indonesia. Maka dari itu, ini lah momentum Indonesia bangkit jadi negara industrialis yang dihasilkan dari baterai mobil," jelas Bahlil.

(hal/das)