Inggris Krisis BBM, RI Kena Getahnya?

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 30 Sep 2021 06:30 WIB
The union flag flies over the Houses of Parliament in Westminster, in central London, Britain June 24, 2016.     REUTERS/Phil Noble
Foto: REUTERS/Phil Noble
Jakarta -

Inggris sedang dilanda krisis bahan bakar minyak (BBM) dan energi. Kondisi itu disebut bisa membuat Indonesia kecipratan dampaknya secara tidak langsung.

Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi mengatakan harga minyak mentah dunia bisa naik di kala Inggris krisis BBM. Pasalnya negara tersebut merupakan produsen minyak besar.

"Sebagai produsen minyak yang cukup besar, krisis itu akan menyebabkan kenaikan harga minyak mentah dunia," kata Fahmy kepada detikcom, Rabu (29/9/2021).

Nah Indonesia sebagai negara yang masih impor minyak mentah dan BBM, kondisi itu bisa mempengaruhi harga impor menjadi lebih mahal. Jika sudah begitu, bukan tidak mungkin harga BBM di Indonesia ikutan naik.

"Sebagai net importir, kenaikan harga minyak dunia bukan menguntungkan, tapi justru merugikan Indonesia. Iya (harga BBM bisa naik)," tuturnya.

Krisis BBM yang dialami Inggris bikin harga minyak mentah dunia naik juga dikatakan oleh Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro. Meskipun secara langsung tidak berdampak karena Inggris bukan mitra dagang terbesar Indonesia.

"Secara langsung saya kira tidak ada karena tidak ada hubungan dagang secara langsung antara Indonesia dengan Inggris dalam konteks energi maupun BBM secara khususnya. Indonesia kebanyakan dari Timur Tengah dan sebagian besar hub-nya lewat Singapura," tambahnya.

Antisipasi yang Harus Dilakukan

Dalam pemenuhan kebutuhan listrik nasional, Indonesia bisa mengoptimalkan pembangkit listrik bertenaga batu bara ketimbang memaksakan penggunaan energi baru terbarukan (EBT) yang belum siap.

"Kalau kita lihat di Amerika Serikat, EBT hanya 12% di tahun 2020. Kalau Inggris sudah lama pake fosil, mereka sudah 400 tahun pakai batu bara sejak era revolusi industri," kata Komaidi.

Hal ini menyadarkan bahwa tidak bisa serta merta mengandalkan dan bergantung sepenuhnya kepada EBT. Di saat sama, harga gas meroket 250% karena keterbatasan pasokan.

Komaidi yakin sejauh ini batu bara akan tetap menjadi energi yang dominan untuk pembangkit listrik Indonesia. Ia melihat pemerintah akan berpikir realistis untuk menggunakan energi yang termurah.

Ia juga menuturkan, Indonesia perlu berhati-hati menyikapi masalah transisi energi ini. Menurutnya, EBT bisa dikembangkan, tapi jika belum bisa kompetitif, jangan dipaksakan.

Sekalipun menggunakan batu bara, PLTU baru saat ini sudah pakai teknologi maju, di antaranya PLTU USC (Ultra Super Critical) yang bisa dihitung biaya produksinya.

"EBT sebagai pelengkap, bukan pengganti. Kalau diibaratkan makanan di meja, EBT itu ibarat sambal, bukan nasinya. Hal ini sejalan dengan yang dituangkan Rencana Umum Energi Nasional di mana 2050 konsumsi fosil masih besar, dan EBT hanya 23% maksimal," ujarnya.

(aid/eds)