Dipakai Pesawat CN235, Bioavtur Punya Potensi Pasar Rp 1,1 Triliun

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Rabu, 06 Okt 2021 13:21 WIB
Tes ground run bioavtur ke pesawat CN-235
Foto: Dok. Kementerian ESDM
Jakarta -

Pemanfaatan campuran bioavtur 2,4% atau J2.4 telah sukses melewati uji terbang dengan menggunakan pesawat CN235-200 FTB. Jika terus dikembangkan, bahan bakar nabati ini punya potensi pasar Rp 1,1 triliun per tahun.

Demikian disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Seremoni Keberhasilan Uji Terbang Pesawat CN235 Campuran Bahan Bakar Bioavtur 2,4%, Rabu (6/10/2021).

"Pangsa pasar J2.4 diperkirakan mencapai Rp 1,1 triliun," katanya.

Airlangga mengatakan, pemerintah telah menyediakan sejumlah insentif yang siap untuk dimanfaatkan, termasuk insentif dari sisi perpajakan.

"Tentu dengan kebijakan pemerintah yang sudah memberikan super deduction tax, kegiatan-kegiatan ini bisa mendapatkan inovasi tax terhadap korporasi yang mesponsori apakah itu PTDI, apakah Pertamina tergantung leading sectornya, dan pemerintah bisa memberikan sampai dengan 300%," paparnya.

Dalam acara yang sama Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan, untuk memproduksi dan menjual J2.4 harus dilihat secara utuh. Sebab, ada bahan baku yang tidak dikontrol oleh Pertamina yakni crude palm oil (CPO). Maka itu, dia berharap adanya sebuah kebijakan yang mendukung keberlangsungan dari program ini.

"Kita berharap ini ada suatu kebijakan yang utuh dari hulu ke hilir bagaimana supaya program ini sustain, continue, kalau sekarang 2,4% nanti 5 kemudian 10 nanti bertambah, tentu kita harapkan ada suatu komitmen baik itu volume yang memang dialokasikan untuk bioavtur ini, yang kedua komersialisasi," katanya.

Selain itu, Nicke juga mengatakan, perlu dilihat pula rencana pemerintah menerapkan pajak karbon pada tahun depan.

"Tentu ada aspek lain yang harus kita lihat, apalagi tahun depan dari Kementerian Keuangan akan menerapkan carbon tax, tentu kita harus lihat ini sebagai suatu mechanism yang bisa kalau kita map-kan dengan harga itu tentu akan berpengaruh ke perekonomian," katanya.

Dari sisi Pertamina, dia bilang, pihaknya berkomitmen menyiapkan kilang-kilang untuk memproduksi bioavtur ini. Ada dua kilang yang disiapkan yakni Kilang Dumai dan Cilacap.

"Komitmen Pertamina, satu adalah, kita harus menyiapkan kilang-kilang Pertamina untuk siap memproduksi bioavtur sesuai dengan regulasi dan juga standar internasional tentunya. Dan kita akan siapkan ada dua, yang siap itu di Kilang Dumai dan di Kilang Cilacap, ini dua yang komitmen kita," paparnya.



Simak Video "Ini Arti Tanda Segitiga Kecil di Samping Indikator Bensin Mobil"
[Gambas:Video 20detik]
(acd/zlf)