Harga Minyak, Gas dan Batu Bara Naik Gila-gilaan, Alarm Tanda Bahaya!

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Selasa, 12 Okt 2021 09:35 WIB
kilang minyak
Foto: shutterstock
Jakarta -

Saat ini harga minyak AS berakhir di atas US$ 80 atau sekitar Rp 1,1 juta per barel pada Senin (11/10) kemarin. Harga minyak ini merupakan yang tertinggi dalam hampir tujuh tahun terakhir.

Melansir dari CNN, Selasa (12/10/2021), harga minyak mentah telah naik 1,5% ke level US$ 80,52 atau sekitar Rp 1,15 juta (bila dihitung dengan kurs Rp 14.300/dolar AS). Terakhir kali harga minyak mentah ditutup di atas US$ 80 adalah pada 31 Oktober 2014.

Kenaikan harga minyak mentah ini tentu akan mempengaruhi harga bensin di Amerika Serikat. Bila harga bensin naik, maka hal ini hanya akan memperburuk inflasi yang meningkat dan menekan anggaran pengeluaran setiap orang di Amerika.

Krisis energi saat ini tidak hanya membuat harga minyak mentah yang naik, harga gas alam juga telah meroket begitu banyak, terutama di Eropa dan Asia.

Di Eropa, harga gas alam telah naik dari di bawah US$ 2 per juta BTU atau sekitar Rp 28.600 pada tahun lalu, menjadi US$ 55 atau sekitar Rp 786.500 pada musim gugur ini.

Padahal di Eropa sendiri gas alam sering digunakan sebagai salah satu sumber pembangkit listrik. Oleh karena itu, bila hal ini terus berlanjut, tentu akan ada banyak warga di Eropa yang akan mengalami kekurangan pasokan listrik.

Tidak berhenti di sana, saat ini harga batu bara di China juga telah mengalami kenaikan yang cukup drastis. Harga batu bara di Tiongkok ini telah mencapai rekor tertinggi setelah banjir melanda China bagian utara, yang membuat puluhan tambang batu bara ditutup.

Padahal di China sendiri, batu bara merupakan sumber utama yang digunakan untuk pemanas, pembangkit listrik, dan pembuatan baja. Karenanya China sekarang tengah bergulat dengan kekurangan listrik, mendorong pemerintah untuk menjatah listrik selama jam sibuk dan beberapa wilayah untuk menangguhkan produksi.

"Kita mungkin hanya satu 'badai' jauhnya dari 'badai' (ekonomi) makro berikutnya," tulis ahli strategi Bank of America dalam catatan baru-baru ini kepada klien.

(das/das)