Motor-Mobil Bensin Bakal Dilarang di RI, Nasib Pengusahanya Gimana?

Aulia Damayanti - detikFinance
Kamis, 14 Okt 2021 18:30 WIB
Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (6/8/2021). Dirlantas Polda Metro Jaya mencatat, pada pelaksanaan PPKM minggu kedua terdapat kenaikan mobilitas warga Jakarta sebesar 26 persen dibanding saat PPKM darurat dan PPKM mikro. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/foc.
Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi/Foto: Dadan Kuswaraharja
Jakarta -

Dalam upaya untuk mencapai target nol emisi karbon atau net zero emission (NZE) 2060, pemerintah berencana menyetop penjualan motor dan mobil berbahan bakar bensin mulai 2040 dan 2050.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) Yohannes Nangoi mengungkap pihaknya belum mengetahui pasti kabar tersebut. Tetapi berdasarkan informasi yang ia dapatkan, bahan bakar mobil yang akan diganti menjadi ramah lingkungan.

"Setahu saya, setelah saya berbicara dengan Kementerian Perindustrian kita harus menggunakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Oleh sebab itu pemerintah mencanangkan bahan bakar itu menggunakan bahan bakar biofuel. Di mana biofuel itu energi baru terbarukan (EBT), maksudnya energi baru itu dulu belum pernah pakai kelapa sawit sekarang pakai kelapa sawit. Jadi baru terbarukan," jelasnya kepada detikcom, Kamis (14/10/2021).

"Jadi kalau begitu, mobilnya hanya mengganti sedikit dan bahan bakarnya jadi minyak kelapa sawit, karena pemerintah tengah mencanangkan G100 kan. Berarti mobilnya boleh dong. Contohnya di Brasil, bensinnya diganti etanol bahan baku tebu, itu kan energi baru terbarukan (EBT). Jadi nanti kita lihat saja, tetapi bukan mobilnya diberhentikan bukan begitu kira-kira," tambahnya.

Dia meyakini dengan sumber daya alam yang ada, RI bisa mewujudkan mobil ramah lingkungan. Pihaknya pun terus menunggu arahan dari Kementerian Perindustrian.

"Kita melihat arahnya mau ke mana ini kan investasi sudah lakukan besar dan selalu larinya ke situ (energi baru terbarukan)," tutupnya.

Astra juga buka suara. Cek halaman berikutnya.

Dihubungi terpisah, Head of Corporate Investor Relations PT Astra International Tbk, Tira Ardianti mengatakan pihaknya selalu mendukung usaha pemerintah dalam mengurangi karbon emisi, salah satunya inisiatif pemerintah yang mengarah ke kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

"Astra secara konsisten berdiskusi dengan partner kami mengenai pengembangan mobil listrik. Pada dasarnya, intensi kami adalah mendukung inisiatif pemerintah untuk mengurangi emisi dengan menciptakan permintaan mobil-mobil listrik, termasuk battery electric vehicle/BEV, plug-in hybrid electric vehicle/PHEV and hybrid electric vehicle/HEV," tuturnya.

Ia juga memberikan bocoran mengenai produk-produk mobil listrik atau ramah lingkungan yang akan diluncurkan Astra. Namun belum bicara detail model yang akan diluncurkan.

"Melalui Toyota-Astra Motor (TAM), telah diluncurkan produk-produk EV (1 BEV, 1 PHEV, dan 8 HEV), dan Toyota berkomitmen untuk meluncurkan produk-produk EV lainnya, walaupun kami belum bisa menginformasikan detail model yang akan diluncurkan," ujarnya.

"Kami berharap kontribusi EV akan meningkat, jika permintaan EV meningkat. Sebagai ilustrasi, terdapat peningkatan signifikan atas penjualan HEV, di mana hanya terjual 2 unit/bulan pada tahun 2009, menjadi 15 unit/bulan pada tahun 2015 dan 165 unit/bulan pada tahun 2021," tutupnya.



Simak Video "Indonesia Bakal Setop Jual Mobil Bensin Tahun 2050"
[Gambas:Video 20detik]
(ara/ara)