RI di Antara Target Bebas Emisi Karbon dan Krisis Energi

Trio Hamdani - detikFinance
Selasa, 19 Okt 2021 21:00 WIB
Matahari terbit dengan pemandangan PLTU Paiton di Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (30/5). Komplek PLTU Paiton yang terdiri dari 3 operator yaitu PT Pembangkit Jawa Bali, Paiton Energy dan Jawa Power mampu memproduksi 4750 Mega Volt yang dihasilkan dari 9 unit berbahan bakar batu bara. File/detikFoto.
Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Krisis energi di dunia membuat batu bara menjadi rebutan. Hal itu menyebabkan harga komoditas tersebut melambung tinggi. Bahkan diungkapkan oleh Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto, meroketnya harga batu bara akhir-akhir ini tak pernah terjadi sebelumnya (unprecedented).

"Kita ketahui harga batu bara sekarang kan unprecedented, tidak pernah terjadi," katanya dalam Indy Fest 2021 - Net Zero Emission secara virtual, Selasa (19/10/2021).

Mantan Menteri Perindustrian (Menperin) itu menjelaskan salah satu faktor yang menyebabkan harga batu bara meroket adalah ketidaksinkronan terhadap energi baru terbarukan.

"Kita juga melihat bahwa ke depan dengan adanya ketidaksinkronan daripada energi baru terbarukan itu mengakibatkan kenaikan harga yang luar biasa super critical ataupun commodity price yang sedang super," tambah Airlangga.

Dia membeberkan dampak kenaikan harga batu bara secara drastis belakangan ini. Situasi tersebut menurutnya berdampak terhadap industri manufaktur. Energi menjadi kebutuhan dasar industri manufaktur dalam menghasilkan produk. Otomatis ketika harga energi meningkat maka akan menyebabkan ongkos produksi menjadi lebih mahal.

"Saya mengatakan bahwa dampaknya tentu di sektor manufaktur, karena masukan dari manufaktur adalah energi. Jadi apabila energinya harganya terlalu tinggi tentu bagi produk manufaktur untuk bersaing ini agak sulit," lanjutnya.

Di saat batu bara sedang menjadi incaran di tengah krisis energi, dunia dihadapkan oleh upaya untuk mencapai target nol emisi karbon atau net zero emission (NZE). Indonesia sendiri menargetkan itu di 2060.

Menteri ESDM Arifin Tasrif menyebut bahwa cadangan batu bara di Indonesia diperkirakan hampir mencapai 200 miliar ton. Tentu pertanyaannya mau diapakan komoditas yang melimpah itu agar tidak bertabrakan dengan upaya menurunkan emisi karbon.

"Masih ada solusi ke depan, ada sekarang ini dikembangkan carbon capture utilization storage, jadi emisinya ditangkap kemudian diinjeksi lagi ke dalam perut bumi, sementara kita memiliki potensi di perut bumi ini luar biasa karena dulu gasnya kita pompa keluar, kemudian jadi kosong, nah ini kita bisa isi dengan CO2," papar Arifin.

Tapi, lanjut dia, itu harus dilakukan secara bertahap untuk mencegah distorsi yang tidak diinginkan. Selain itu banyak yang harus dilakukan.

"Makanya perlu kebersamaan semua stakeholder untuk bekerja sama, ya bagaimana kita juga bisa merespons tuntutan global karena ke depannya ini juga manfaatnya untuk generasi penerus kita, mereka akan diwarisi dengan kehidupan yang lebih sehat," tambahnya.

(toy/eds)