Parah! Demi Cuan, Perusahaan Ini Anggap Remeh Pemanasan Global

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Kamis, 21 Okt 2021 09:48 WIB
PBB Peringatkan Pemanasan Global Sedang Terjadi, Suhu Naik 3 Derajat di Tahun 2100
Foto: ABC Australia
Jakarta -

Perusahaan minyak asal Prancis, TotalEnergies, dituduh telah meremehkan isu terkait pemanasan global. Padahal mereka sudah mengetahui resiko mengenai penggunaan bahan bakar fosil terhadap pemanasan global.

Tuduhan ini tentu dapat menjadi permasalahan yang cukup serius bagi TotalEnergies, sebab di benua biru sendiri (tempat perusahaan itu berasal) isu terkait pemanasan global merupakan salah satu isu yang paling dianggap penting di sana. Terlebih lagi di negara asal TotalEnergies, merupakan tempat di mana Persetujuan Paris (Paris Agreement) ditandatangani.

Paris Agreement adalah sebuah persetujuan dalam Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengawal reduksi emisi karbon dioksida efektif yang akan mulai berlaku pada tahun 2020. Persetujuan ini dibuat pada Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa 2015 di Paris, Prancis.

Oleh karenanya isu ini merupakan masalah yang sangat serius bagi kelangsungan perusahaan minyak tersebut.

Melansir dari BBC, Kamis (21/10/2021), menurut para peneliti TotalEnergi dianggap telah meremehkan risiko pemanasan global setidaknya sejak 50 tahun yang lalu. Berdasarkan sebuah artikel sebuah artikel dari tahun 1971 di majalah perusahaan, Total Information, menyebutkan kalau emisi karbon dari pembakaran bahan bakar fosil yang berkelanjutan dapat menyebabkan pencairan sebagian lapisan es dan adanya kenaikan karbon dioksida di atmosfer.

Para peneliti mengatakan kalau dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Total pada tahun 1971 telah memperingatkan bahwa pembakaran bahan bakar fosil sejak abad ke-19 telah meningkatkan konsentrasi karbon dioksida di atmosfer, dan ini akan berlanjut jika bahan bakar dibakar pada kecepatan yang sama.

"Bukan tidak mungkin, menurut beberapa orang, untuk meramalkan setidaknya pencairan sebagian dari lapisan es kutub, yang pasti akan mengakibatkan kenaikan permukaan laut yang signifikan. Konsekuensi bencana mudah dibayangkan," kata artikel Total Information.

Meskipun demikian, pada akhir 1980-an perusahaan minyak TotalEnergi (yang saat itu masih bernama Total) malah mulai menggaungkan keraguan mengenai dasar ilmiah untuk pemanasan global. Selain itu, demi kepentingan pribadi perusahaan ini malah berubah dari penolakan ke penundaan.

Perusahaan ini baru akhirnya menetapkan posisi mereka pada akhir 1990-an untuk menerima ilmu iklim terkait resiko pemanasan global secara publik sambil mempromosikan penundaan kebijakan yang terkait dengan pengendalian bahan bakar fosil.

Karenanya, perusahaan tersebut dituduh telah menyembunyikan dan meremehkan isu tersebut meski sudah mengetahuinya sejak lama. Di sisi lain, perusahaan telah membantah tuduhan tersebut dan menambahkan bahwa sejak 2015 telah berfokus pada energi terbarukan

Raksasa minyak itu mengatakan kalau pengetahuannya tentang risiko iklim tidak berbeda dengan yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah saat itu, yang sepenuhnya dikonfirmasi oleh studi ilmiah yang diterbitkan hari ini.

"Oleh karena itu salah untuk mengklaim bahwa risiko iklim disembunyikan oleh Total," kata TotalEnergies dalam sebuah pernyataan itu.

"TotalEnergies menyesalkan proses menunjuk jari pada situasi dari 50 tahun yang lalu, tanpa menyoroti upaya, perubahan, kemajuan dan investasi yang dilakukan sejak saat itu," tambah perusahaan itu.

Ia juga mengatakan bahwa sejak 2015, ia mengubah operasinya secara mendalam menuju energi terbarukan.

Simak video 'Bencana Hidrometeorolgi di India-Nepal Dampak Pemanasan Global':

[Gambas:Video 20detik]



(das/das)