Bukti Nyata Singapura Ketergantungan RI

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 22 Okt 2021 18:00 WIB
Patung Merlion, Singapura
Foto: Fitraya Ramadhanny/detikTravel
Jakarta -

Singapura ternyata bergantung banyak komoditas dari Indonesia. Baru-baru ini gara-gara gas alam di Indonesia tengah gangguan, Singapura terancam krisis listrik.

Selain itu, Negeri Singa itu juga impor barang lain, mulai dari logam, barang elektronik, hingga peralatan listrik. Data itu diambil dari catatan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam data Ekspor Indonesia Menurut Provinsi Asal Barang 2020.

detikcom merangkumnya berdasarkan data masing-masing provinsi yang menjadikan Singapura tujuan utama ekspor mereka.

Mulai dari ekspor Provinsi Kalimantan Barat ke Singapura pada 2020 tercatat naik sebesar 854,22% senilai US$ 325,4 juta. Dari nilai itu barang yang banyak diekspor ke Singapura yakni logam dasar yang besaran ekspornya 99,71%.

Dari nilai itu, artinya penerimaan logam dasar yang diterima Singapura dari Kalbar cukup besar. Dari tahun 2018 hingga 2020 ekspor logam dasar ke Singapura ini terus meningkat.

"Pada 2018 nilai ekspor logam dasar US$ 12,9 juta, 2019 US$ 31,8 juta, dan pada 2020 melonjak US$ 325,4 juta," mengutip dari data BPS, Jumat (22/10/2021).

Kemudian, dari Kepulauan Bangka Belitung ekspor logam dasar juga menjadi komoditas paling banyak diekspor ke Singapura. Besarannya hingga 88,22% yang diekspor ke negara itu.

Pada tahun 2018, nilai ekspor logam dasar US$ 348,8 juta, naik lagi tahun 2019 menjadi US$ 532,8 juta. Kemudian turun sebanyak 65,88% di 2020 menjadi US$ 181,8 juta.

Dari Kepulauan Riau, Singapura impor paling banyak barang dari industri komputer, elektronik, dan optik. Besaran ekspor Riau dari barang barang itu paling tinggi sebesar 28,26%. Kedua terbesar yakni ekspor pertambangan gas alam 20,73%.

Berlanjut ke halaman berikutnya.