ADVERTISEMENT

Horor Banget! Harga Bensin di AS Nggak Berhenti Naik

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Jumat, 05 Nov 2021 09:10 WIB
Drum BBM minyak.   dikhy sasra/ilustrasi/detikfoto
Foto: Dikhy Sasra
Jakarta -

Semakin hari semakin banyak warga Amerika Serikat (AS) yang terkena 'hantaman' dari tingginya harga bensin. Namun, tidak berhenti di sana, Bank of America berpikir kalau 'rasa sakitnya ini' mungkin baru saja dimulai.

Melansir dari CNN, Jumat (11/5/2021), saat ini harga bensin di AS telah mengalami lonjakan hingga ke level tertinggi dalam tujuh tahun terakhir akibat tingginya harga minyak mentah di negara tersebut.

Sekarang ini harga bensin di AS telah dijual dengan kisaran harga US$ 3,40 per galon secara nasional dan mendekati US$ 4 per galon untuk di sejumlah negara bagian seperti Nevada, Washington State dan Oregon.

Namun tidak berhenti di sana, sekarang Bank of America telah memprediksi kalau harga minyak mentah Brent (yang mendorong terjadinya kenaikan harga bensin) akan naik hingga ke US$ 120 per barel pada Juni 2022 mendatang. Kenaikan itu 45% lebih tinggi dari level harga minyak mentah saat ini.

"Sangat mudah untuk harga (bensin) melonjak ketika kondisi permintaan ketat seperti sekarang," kata kepala komoditas global Bank of America, Francisco Blanch.

Bila harga minyak terus mengalami lonjakan lebih lanjut, tentu hal ini dapat meningkatkan biaya hidup orang Amerika. Dan bila itu terjadi, makan sejumlah bisnis dan pengeluaran rumah tangga di AS akan semakin terbebani.

Akibatnya saat ini banyak warga AS sangat mengkhawatirkan harga bensin yang di jual di pompa dan kekhawatiran tentang inflasi telah membantu memperburuk pandangan mereka tentang ekonomi secara keseluruhan.

Meski sudah mengalami 'pukulan' akibat adanya kenaikan harga bensin, namun Bank of America memperingatkan kalau perubahan harga ini akan terus mengalami peningkatan.

"Pemulihan permintaan ini tidak akan berhenti pada $80, $90 atau bahkan $100 per barel. Ingat, yang lainnya telah naik," kata Blanch, merujuk pada lonjakan inflasi.

"Saya tahu US$ 100 terdengar mahal tapi tidak semahal itu dalam konteks banyak hal," jelasnya lagi.

(eds/eds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT