Harga Minyak Rontok Dihantui Varian Baru Virus Corona

Trio Hamdani - detikFinance
Jumat, 26 Nov 2021 21:30 WIB
Ilustrasi sektor migas
Foto: Ilustrasi Migas (Fauzan Kamil/Infografis detikcom)
Jakarta -

Patokan harga minyak global, Brent turun hampir 4%. Brent merosot di bawah US$ 80 per barel pada hari Jumat. Hal itu disebabkan varian COVID-19 baru yang membuat investor cemas.

Bayang-bayang varian baru virus Corona memperparah kekhawatiran akan surplus pasokan minyak global yang dapat membengkak pada kuartal pertama setelah rilis cadangan minyak mentah oleh Amerika Serikat dan negara-negara lainnya. Demikian disadur detikcom dari The Economic Times, Jumat (26/11/2021).

Komoditas minyak runtuh seiring dengan pasar keuangan lainnya di tengah kekhawatiran bahwa varian baru COVID-19 dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi dan kembali membatasi pergerakan.

Minyak mentah berjangka Brent memperpanjang tren penurunan untuk sesi ketiga, jatuh US$ 3,16 atau 3,8% menjadi US$ 79,06 per barel pada 0733 GMT. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$ 3,45 atau 4,4% menjadi US$ 74,94 per barel. Tidak ada penyelesaian untuk WTI pada hari Kamis karena liburan Thanksgiving.

"Harga minyak mengalami gap lebih rendah di Asia karena varian Afrika Selatan memicu kekhawatiran pertumbuhan, mengirimkan gelombang penjualan melalui pasar energi Asia," kata Jeffrey Halley, analis senior di broker OANDA.

Hal lain yang menjadi fokus adalah tanggapan China terhadap pemerintahan Presiden AS Joe Biden yang mengumumkan rencana pada hari Selasa untuk melepaskan jutaan barel minyak dari cadangan strategis dalam koordinasi dengan negara-negara konsumen besar lainnya untuk mencoba mendinginkan harga.

Rilis seperti itu kemungkinan akan membengkakkan pasokan dalam beberapa bulan mendatang, kata sumber OPEC, menurut temuan panel ahli yang memberi nasihat kepada menteri Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Dewan Komisi Ekonomi (ECB) memperkirakan surplus 400.000 barel per hari (bph) pada Desember, meningkat menjadi 2,3 juta barel per hari pada Januari dan 3,7 juta barel per hari pada Februari jika negara-negara konsumen melanjutkan rilis. Hal itu berdasarkan keterangan sumber OPEC.

Prakiraan kenaikan surplus minyak mengaburkan prospek pertemuan antara OPEC dan sekutunya, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, pada 2 Desember untuk memutuskan produksi segera. Kelompok tersebut akan memutuskan apakah akan terus meningkatkan produksi sebesar 400.000 barel per hari pada Januari.

(toy/das)