28 Perusahaan Teken Kontrak Pembelian Sertifikat EBT PLN

Yudistira Perdana Imandiar - detikFinance
Jumat, 17 Des 2021 15:22 WIB
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana
Foto: PLN
Jakarta -

Sebanyak 28 perusahaan lokal dan global membeli sertifikat energi baru terbarukan atau Renewable Energy Certificate (REC) dari PT PLN (Persero). Pemerintah melalui Kementerian ESDM optimistis produk REC PLN dapat menjadi salah satu solusi konkret untuk mencapai target bauran energi 23% atau lebih pada 2025.

Kontrak jual beli REC ditandatangani PLN dengan 28 perusahaan lokal dan global di Kantor Pusat PLN, Jakarta pada Senin (13/12). Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana menilai REC menjadi terobosan konkret dari PLN untuk mendorong pemanfaatan EBT di Tanah Air. Dadan turut mengapresiasi PLN yang mengalokasikan penerimaan dari atribut yang bersifat premium ini untuk mendorong pemanfaatan EBT.

"Ini salah satu inisiatif yang sangat baik untuk jangka pendek. Terima kasih kepada PLN, semoga semakin banyak perusahaan yang beralih ke energi bersih dan memanfaatkan REC ke depan," kata Dadan dikutip dalam keterangan tertulis, Jumat (17/12/2021).

Ia berharap melalui berbagai inovasi di sektor energi seperti yang dilaksanakan oleh PLN ini, target bauran energi 23% pada 2025 dapat tercapai. Terlebih melihat tren global saat ini yang menuju era dekarbonisasi dalam seluruh prosesnya, Dadan optimistis REC akan semakin disambut baik oleh kalangan industri.

"Kami juga akan segera mengimplementasikan regulasi-regulasi terkait untuk mendorong pemanfaatan EBT. Sekarang sedang kami finalisasi untuk dua regulasi, yang pertama adalah tarif untuk EBT, dan yang kedua terkait pemanfaatan PLTS Atap, tentunya ini akan bekerja sama dengan PLN," papar Dadan.

Sementara itu, Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN Bob Saril menyampaikan kerja sama ini merupakan salah satu bentuk usaha bersama untuk membangun suatu dunia yang lebih bersih. PLN menyediakan REC yang menggunakan pembangkit listrik berbasis EBT yang diaudit oleh sistem tracking internasional, APX TIGRs yang berlokasi di California, USA.

"Listrik yang disalurkan sesuai dengan besaran yang diperjualbelikan berasal dari EBT. Terima kasih kepada perusahaan-perusahaan yang menjadi pelanggan sekaligus partner kita dalam menggunakan REC," tutur Bob.

Bob mengulas melalui REC, PLN menghadirkan opsi pengadaan bagi pelanggan untuk pemenuhan target penggunaan energi terbarukan yang transparan, akuntabel dan diakui secara internasional. Melihat respons positif dari industri, imbuhnya, PLN berkomitmen akan terus bertransformasi untuk dapat menghasilkan lebih banyak produk energi ramah lingkungan dan mengembangkan layanan-layanan inovatif seperti green tariff.

"PLN berkomitmen, untuk menggunakan hasil penjualan REC untuk mengembangkan kapasitas pembangkit EBT di Indonesia menuju target nasional energi terbarukan pada tahun 2025," sambung Bob.

Pada tahap awal, PLN telah mendaftarkan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Kamojang yang berlokasi di Jawa Barat dengan kapasitas 140 MW (MegaWatt) dan dapat menghasilkan listrik sebesar 993.000 MWh (Megawatt hour) per tahun atau setara dengan 993.000 unit REC.