Subsidi BBM-Listrik Bengkak Jadi Rp 102 T, Sri Mulyani: Rakyat Terlindungi, APBN Terbebani

Danang Sugianto - detikFinance
Selasa, 21 Des 2021 11:35 WIB
Antrean kendaraan yang akan mengisi BBM terjadi di SPBU Kota Pangkalpinang. Antrean panjang itu diduga akibat kelangkaan BBM di wilayah tersebut.
Antrean pengisian BBM di SPBU. Foto: ANTARA FOTO/Resha Juhari
Jakarta -

Subsidi energi mengalami pembengkakan yang cukup signifikan. Penyebabnya karena kenaikan harga keekonomian dan bertambahnya jumlah konsumsi.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, hingga akhir November 2022 realisasi subsidi energi sudah mencapai RP 102,5 triliun. Angka itu membengkak naik 15,7% jika dibandingkan dengan realisasi subsidi energi di November 2020 sebesar Rp 88,6 triliun.

"Kenaikan konsumsi barang-barang yang disubsidi pemerintah tentu menaikkan anggaran subsidi pemerintah. Ini juga disebabkan karena harga yang meningkat. Jumlah subsidi naik dari Rp 88,6 triliun tahun lalu sekarang mencapai Rp 102,5 triliun atau naik 15,7%. Rakyat terlindungi, namun APBN harus memikul bebannya," tuturnya dalam Konferensi Pers APBN KITA, Selasa (21/12/2021).

Sri Mulyani pun menjabarkan, memang dari sisi penyaluran subsidi energi mengalami kenaikan. Misalnya untuk BBM solar penyalurannya realisasi penyalurannya naik dari Oktober 2020 11,9 juta kilo liter (kl) menjadi 13,13 juta kl.

Kemudian untuk LPG tabung 3 kg penyalurannya naik dari 5.887,6 juta kg menjadi 6.176,9 juta kg. Lalu untuk jumlah pelanggan listrik subsidi listrik juga naik dari 36,83 juta pelanggan menjadi 38,1 juta pelanggan dan volume konsumsi listrik subsidi naik dari 50,83 Twh menjadi 52,2 Twh.

Tak hanya subsidi energi, dari sisi subsidi non energi juga mengalami kenaikan, meskipun hanya tipis. Realisasi hingga November 2021 mencapai Rp 61,9 triliun, naik 0,8% dari posisi November 2020 sebesar Rp 61,4 triliun.

Terdiri dari subsidi bunga KUR yang naik dari 5,24 juta debitur menjadi 7,02 juta debitur. Dari sisi nilainya juga naik signifikan dari Rp 167,84 triliun menjadi Rp 265,87 triliun.



Simak Video "Sri Mulyani Sebut APBN 2022 Defisit Rp 868 Triliun atau 4,85% dari PDB"
[Gambas:Video 20detik]
(das/ang)