Kenapa Premium Harus Banget Dihapus? Sempat Jadi Mainan Mafia Migas Lho

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Senin, 27 Des 2021 13:09 WIB
Mulai hari ini berbagai harga BBM turun serentak, mulai dari bensin premium, solar, Pertamax hingga Pertalite. Harga premium di wilayah Jawa-Madura-Bali turun dari Rp 7.400/liter jadi Rp 7.050/liter.
BBM Premium
Jakarta -

Rencana pemerintah untuk menghapus bahan bakar minyak (BBM) Premium (RON 88) banyak disorot. Premium akan dialihkan ke BBM Pertalite (RON 90). Langkah ini dinilai sebagai salah satu memperbaiki kondisi lingkungan dengan mendorong penggunaan BBM ramah lingkungan.

Dalam rangka itu, Direktur Pembinaan Usaha Hilir Migas Soerjaningsih menjelaskan bahwa Indonesia kini mulai memasuki masa transisi di mana BBM RON 90 akan menjadi bahan bakar antara menuju BBM yang ramah lingkungan.

"Kita memasuki masa transisi di mana Premium (RON 88) akan digantikan dengan Pertalite (RON 90), sebelum akhirnya kita akan menggunakan BBM yang ramah lingkungan," katanya baru-baru ini, dikutip Senin (27/12/2021).

Sejatinya rencana pemerintah untuk menghapus BBM Premium sudah sering terdengar, bahkan sejak bertahun-tahun lalu. Selain karena tak ramah lingkungan, Premium juga memiliki biaya produksi yang tinggi karena bahan bakunya yang harus diimpor, baru kemudian diolah lagi di dalam negeri.

Sudah banyak pihak yang mengutarakan hal tersebut, contohnya oleh Menteri ESDM pada tahun 2012 lalu. Menteri ESDM yang saat itu dijabat oleh Jero Wacik mengatakan harga bensin Premium mahal dan sebagian harus diimpor oleh Pertamina. Saat itu ia meminta secara perlahan pengguna mobil pribadi untuk beralih menggunakan bahan bakar gas (BBG).

"Di era demokrasi, semuanya maunya cepat. Kalau mau pindah ke gas, karena gas lebih efisien dan banyak. Premium itu mahal, sebagian impor lagi," kata Jero.

Selain Jero Wacik, Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi pada 2014 lalu juga pernah menyatakan Premium adalah BBM yang dijual lebih murah dari harga pasar. Namun untuk memproduksi Premium dibutuhkan proses yang tidak mudah dan biaya tidak murah.

Djoko Siswanto, Anggota Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi, mengatakan sudah semakin sulit mencari Premium atau yang dikenal dengan RON 88. Hampir semua produsen minyak sudah memproduksi RON 92 atau sekelas Pertamax yang non subsidi.

"RON 88 itu sudah jarang sekali bisa didapat, hampir semua produsen minyak produksinya sekarang ini RON 92 ke atas. Bahkan untuk impor RON 88, Petral harus blending (mencampurkan) nafta 92 dengan berbagai macam campuran agar bisa jadi RON 88. Itu kan biaya lagi," papar Djoko pada 2014 lalu.

Oleh karena itu, Djoko menyebutkan agar BBM bersubsidi dinaikkan kelasnya dari RON 88 menjadi RON 92. Artinya, Premium akan hilang dan Pertamax menjadi BBM bersubsidi.

Dugaan adanya permainan mafia migas. Klik halaman berikutnya.

Tonton juga Video: Tinggal 7 Negara yang Pakai Bensin Setara Premium, Masih Mau Pakai?

[Gambas:Video 20detik]