Ada Kabar Premium Sulit Dihapus karena Mafia Migas, Ahok: Setuju!

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Senin, 27 Des 2021 15:14 WIB
Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok meluncurkan buku Panggil Saya BTP di Gedung Tempo, Palmerah, Jakarta Selatan, Senin (17/2/2020).
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi mengungkap, penghapusan BBM jenis Premium akan memberikan keuntungan bagi PT Pertamina (Persero). Sebab, akan mengurangi biaya transportasi dan mengurangi biaya subsidi yang selama diberikan ke BUMN migas ini.

Namun, ia ragu penghapusan Premium bakal dilakukan tahun depan. Sebab, wacana penghapusan sudah lama namun tak kunjung berjalan. Dia menduga ini karena mafia migas alias pemburu rente impor.

"Saya tidak yakin tahun depan Premium benar-benar dihapuskan. Pasalnya, sejak 2017 penghapusan Premium sudah diwacanakan, tetapi hingga kini tidak pernah direalisasikan. Kendalanya, saya menduga, pemburu rente impor Premium selalu mencegah rencana penghapusan Premium," katanya kepada detikcom seperti ditulis Senin (27/12/2021).

Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok merespons pernyataan tersebut.

"Setuju," kata Ahok.

Ahok mengatakan, untuk menghasilkan Premium harus mengalami proses percampuran sehingga oktan turun. Padahal, kilang modern menghasilkan BBM dengan oktan tinggi. Ia pun mempertanyakan hal tersebut.

Ia juga bercerita, banyak yang menyuarakan Premium tidak boleh dihapus mengatasnamakan rakyat. Padahal, hampir 80% konsumen BBM memakai Pertalite.

"Kilang modern hasilkan BBM oktannya tinggi. Mau jualan Premium harus campur nafta buat turunkan lagi. Mungkin ini jadi kerjaan tambahan? Dan ada pemasok ? Dan belinya terbatas dan tertentu? Dan sering sekali atas nama rakyat Premium nggak boleh dihapus. Faktanya hampir 80% pengisi BBM itu pakai Pertalite," terangnya.



Simak Video "Jokowi: Transisi Energi Akan Mengubah Pekerjaan Hingga Orientasi Bisnis"
[Gambas:Video 20detik]
(acd/zlf)