Ada Apa Sih di Kazakhstan, Kok Bisa Rusuh?

Trio Hamdani - detikFinance
Kamis, 06 Jan 2022 18:25 WIB
Protesters try to speak to riot police as they gather in the center of Almaty, Kazakhstan, Wednesday, Jan. 5, 2022. Demonstrators denouncing the doubling of prices for liquefied gas have clashed with police in Kazakhstans largest city and held protests in about a dozen other cities in the country. Local news reports said police dispersed a demonstration of about a thousand people Tuesday night in Almaty and that some demonstrators were detained. (AP Photo/Vladimir Tretyakov)
Foto: AP/Vladimir Tretyakov
Jakarta -

Kazakhstan sedang mencekam. Ribuan pengunjuk rasa yang marah turun ke jalan dalam beberapa hari terakhir. Negara tersebut diguncang krisis terbesar.

Video yang diposting online pada kemarin Rabu menunjukkan orang-orang menyerbu gedung utama pemerintah di Almaty, sementara pengunjuk rasa lainnya membakar kendaraan polisi, serta cabang regional partai penguasa, Nur Otan.

Disadur detikcom dari New York Times, Kamis (6/1/2022), protes dipicu oleh kemarahan atas melonjaknya harga bahan bakar hingga merambat pada persoalan ketidakpuasan terhadap pemerintah otoriter yang korup, mengakibatkan kekayaan terkonsentrasi di dalam elit politik dan ekonomi yang kecil.

Kemarahan memuncak ketika pemerintah menaikkan batas harga untuk bahan bakar gas cair (LPG), bahan bakar rendah karbon yang digunakan banyak orang Kazakhstan untuk memberi daya pada mobil mereka.

Tetapi protes memiliki akar yang lebih dalam, termasuk kemarahan pada kesenjangan sosial dan ekonomi, diperburuk oleh pandemi yang mengamuk, serta kurangnya demokrasi.

Gaji rata-rata di Kazakhstan setara dengan US$ 570 atau setara Rp 8,2 juta per bulan (asumsi kurs: Rp 14.400). Angka tersebut menurut statistik pemerintah, meskipun banyak orang berpenghasilan jauh lebih sedikit.

Bersambung ke halaman selanjutnya.