Harga LPG Bikin Kazakhstan Chaos, Menterinya Ramai-ramai Resign!

Dana Aditiasari - detikFinance
Rabu, 05 Jan 2022 18:14 WIB
Protesters try to speak to riot police as they gather in the center of Almaty, Kazakhstan, Wednesday, Jan. 5, 2022. Demonstrators denouncing the doubling of prices for liquefied gas have clashed with police in Kazakhstans largest city and held protests in about a dozen other cities in the country. Local news reports said police dispersed a demonstration of about a thousand people Tuesday night in Almaty and that some demonstrators were detained. (AP Photo/Vladimir Tretyakov)
Foto: AP/Vladimir Tretyakov
Jakarta -

Menteri-menteri kabinet Pemerintahan Kazakhstan ramai-ramai mengajukan pengunduran diri di tengah gelombang protes besar-besaran merespons melonjaknya harga bahan bakar di negara tersebut.

Presiden Kassym-Jomart Tokayev mengumumkan telah menerima surat pengunduran diri tersebut.

Mengutip NHK, para demonstran pertama kali turun ke jalan di Mangistau yang merupakan salah satu provinsi di barat Kazakhstan, sejak Minggu waktu setempat karena adanya lonjakan harga bahan bakar di negara tersebut.

Tak tanggung-tanggung, demonstrasi bahkan telah menyebar ke ibu kota Nur-Sultan dan kota terbesar Kazakhstan, Almaty.

Sebuah rekaman video bahkan menunjukkan gelombang demonstrasi diwarnai teriakan slogan-slogan penolakan dan kendaraan yang terbakar. Tampak juga gelombang para demonstran yang ditahan oleh pasukan keamanan.

Dikutip dari reuters, pencabutan batas harga bahan bakar gas cair yang diumumkan Presiden Kassym-Jomart Tokayev disinyalir jadi penyebab lonjakan harga gas rumah tangga yang akhirnya memicu gelombang protes besar-besaran dari masyarakat.

Dalam upaya mengendalikan situasi, pemerintah telah mengumumkan status darurat, termasuk jam malam di sejumlah daerah termasuk Almaty.

Kesenjangan pendapatan antara orang miskin dan orang kaya di Kazakhstan kian melebar membuat ketimpangan daya beli dan akses terhadap sumber-sumber energi dan komositas ekonomi lainnya. Kondisi ini membuat masyarakat semakin frustrasi.

(dna/ang)