Minyak Dunia Diramal Meroket ke US$ 100/Barel, Bensin Makin Mahal Dong?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 13 Jan 2022 08:39 WIB
Sempat Anjlok, Kini Harga Minyak Mentah Dunia Menguat Berkat AS-Rusia
Foto: DW (News)
Jakarta -

Harga minyak diprediksi akan menguat tahun ini. Sejumlah analis memproyeksikan hal ini karena kapasitas produksi dan investasi tidak sama dengan tahun lalu.

Disebutkan, hal ini bisa mendorong harga minyak ke level US$ 90 hingga US$ 100 per barel.

Analis juga menyebutkan, harga akan terus meningkat meskipun dibayangi dengan kasus Omicron. Pada Rabu harga minyak mentah Brent diperdagangkan pada level US$ 85 pada Rabu, ini merupakan level tertinggi dalam dua bulan terakhir.

Seorang Analis Pasar OANDA Jeffrey Halley mengungkapkan OPEC+ juga terbatas untuk produksi minyak. "Ini dengan asumsi China tidak lagi ada perlambatan ekonomi, Omicron akan menjadi Omi-gone," jelas dia dikutip dari Reuters, Kamis (13/1/2022).

Memang negara pengekspor minyak OPEC+ ini secara bertahap mulai mengurangi produksi ketika permintaan merosot tajam pada 2022 lalu. Dia menyebutkan, kondisi ini membuat banyak produsen kecil tak mampu mendorong pasokan.

Morgan Stanley memprediksi minyak mentah Brent akan menyentuh harga US$ 90 per barel pada kuartal ketiga tahun ini.

Selain itu kondisi ini juga bisa terjadi karena pasokan minyak mentah mulai menipis dan jumlah cadangan yang lebih rendah pada paruh kedua tahun ini.

Analis JPMorgan menyebutkan jika harga minyak bisa mengalami kenaikan setelah IEA dan Bloomberg menurunkan perkiraan kapasitas OPEC tahun ini masing-masing 0,8 juta barel per hari dan 1,2 juta barel per hari.

JPMorgan memproyeksi harga minyak akan menjadi US$ 125 per barel tahun ini dan US$ 150 pada 2023.

VP Analyst Rystad Energy Claudio Galimberti menyebutkan jika OPEC lebih disiplin dalam produksi maka bukan hal yang mustahil harga minyak bisa menyentuh level US$ 100.

Menteri Energi dan Mineral Kesultanan Oman, Mohammed Al Ruhmy mengungkapkan jika pihaknya tak ingin melihat harga minyak di level US$ 100 per barel. "Dunia belum siap melihat itu (harga minyak)," jelas dia.

Harga minyak yang tinggi memang turut mengerek harga bensin dan solar. Kondisi ini juga disebut bisa memperlambat pemulihan ekonomi yang baru mulai bangkit dari pandemi di seluruh dunia.



Simak Video "Harga Bahan Pokok Meroket Tajam, Mendag: Sakit Kepala!"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/zlf)