RI Bisa Makin Cepat Masuk ke Era Motor Listrik Berkat Ini

Trio Hamdani - detikFinance
Kamis, 24 Feb 2022 17:58 WIB
Perusahaan patungan Gojek dan TBS Energi Utama, Electrum bersinergi dengan Pertamina, Gogoro dan Gesits dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik.
Foto: Dok. Gojek
Jakarta -

Electrum, perusahaan patungan Gojek dan PT TBS Energi Utama (TOBA), bersama dengan Pertamina, Gogoro, dan Gesits memperkuat sinergi melalui komitmen bersama untuk terus melanjutkan kolaborasi dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik.

Dalam kolaborasi ini, Electrum, Pertamina, Gogoro, dan Gesits akan memperluas uji coba komersial penggunaan kendaraan listrik roda dua yang akan terus dikembangkan secara bertahap hingga ribuan unit di sepanjang tahun 2022.

Hasil uji coba akan dimanfaatkan antara lain sebagai landasan rencana bisnis Electrum. Perusahaan gabungan Gojek dan TBS ini sudah memiliki rencana membangun manufaktur motor listrik, teknologi pengemasan baterai, infrastruktur penukaran baterai, dan pembiayaan untuk memiliki kendaraan listrik.

Direktur Utama Electrum dan Wakil Direktur Utama PT TBS Energi Utama Pandu Sjahrir mengungkapkan, kolaborasi ini sangat penting. Untuk membangun ekosistem kendaraan listrik ini, menurut Pandu, tidak bisa dilakukan sendiri tetapi dibutuhkan kolaborasi dari sejumlah pihak.

"Inilah pentingnya kolaborasi karena untuk membangun ini tidak bisa sendiri, harus semua menjadi satu. Satu dari sisi manufaktur, yaitu pembangunan motor listriknya, juga pembangunan baterainya, dan juga salah satunya adalah hilirisasi," tutur Pandu, dalam konferensi pers, Selasa (22/2/2022).

Dengan demikian, lanjutnya, dalam mempercepat adopsi kendaraan listrik ini dibutuhkan integrator, pengembang, dan katalis yang aktif membangun ekosistem kendaraan listrik.

"Inilah peran yang Electrum ambil karena ekosistem kendaraan listrik di Indonesia belum terintegrasi dengan baik. Lewat sinergi erat bersama BUMN dan swasta, kami percaya adopsi bisa terakselerasi. Tidak hanya mendorong penggunaan, kami di Electrum memastikan infrastruktur bisa tersedia dengan baik sehingga masyarakat tidak ragu memanfaatkannya," ujar Pandu.

Dia menyebut adanya kolaborasi ini sangat penting. Apalagi untuk membangun ekosistem kendaraan listrik ini dibutuh waktu yang cukup lama.

"Dari sisi kami, ini bukan hanya satu atau dua tahun. Tapi ini membutuhkan satu dekade untuk mengubah ini semua. Kita memang punya sumber daya yang besar tapi sekarang kita juga menggunakan teknologi untuk mewujudkan ekosistem motor listrik, dan nanti mobil listrik," imbuhnya.

Pentingnya Kolaborasi

Kolaborasi membangun ekosistem kendaraan listrik ini memanfaatkan masing-masing keahlian dari keempat perusahaan. Hal ini untuk semakin mendorong pengembangan infrastruktur kendaraan listrik di Indonesia.

Direktur Electrum dan CEO serta Co-Founder Gojek Kevin Aluwi menegaskan, untuk membangun ekosistem kendaraan listrik ini dibutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak.

"Tentunya kita tidak bisa melakukannya sendiri. Beruntung kita mempunyai partner-partner yang masing-masing memiliki peran penting," tegasnya.

Electrum akan bertindak sebagai integrator dan pengembang ekosistem kendaraan listrik, dengan memanfaatkan kehadiran Gojek di Indonesia dan keahlian TBS di sektor energi.

Sementara, Pertamina lewat Pertamina Patra Niaga menyediakan stasiun penukaran baterai motor listrik di berbagai SPBU yang tersebar di kawasan Jakarta Selatan. Sejauh ini sudah ada 14 unit Battery Swapping Station dengan 212 baterai yang tersebar di lokasi Green Energy (GES) Pertamina.

Kolaborasi semakin lengkap dengan dukungan Gogoro sebagai penyedia inovasi teknologi penukaran baterai dan motor listrik, dan Gesits menyediakan motor listrik beserta infrastrukturnya.

Gojek sendiri sebagai bagian dari Grup GoTo menargetkan 100 persen armadanya beralih ke kendaraan listrik pada 2030 mendatang. Komitmen Gojek tersebut diklaim sesuai dengan salah satu dari tiga prioritas G20 tahun ini yaitu transisi energi.

Sebelumnya, Gojek bersama Electrum dan Pertamina telah melakukan uji coba komersial tahap satu motor listrik. Hasilnya, pemanfaatan motor listrik dapat diterima dengan baik oleh mitra driver dan konsumen. Di sisi mitra driver, mereka bisa melakukan penghematan biaya operasional hingga 30 persen atau mencapai Rp500 ribu sampai dengan Rp700 ribu dalam sebulan

(toy/dna)