ADVERTISEMENT

Ribut-ribut Rusia dan Ukraina Bikin Harga Batu Bara Naik ke US$ 203/Ton

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Senin, 07 Mar 2022 19:45 WIB
Sebuah kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (14/1/2022). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan target produksi batu bara 2022 mencapai 663 juta ton yang diperuntukkan untuk konsumsi domestik/domestik market obligation (DMO)  sebesar 165,7 juta ton sedangkan sisanya 497,2 juta ton akan mengisi pasar ekspor. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/rwa.
Ilustrasi/Foto: ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI
Jakarta -

Rusia dan Ukraina masih bersitegang. Kondisi ini membuat harga batu bara dunia melambung.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM) sudah menetapkan harga batu bara acuan (HBA) pada Maret 2022 menjadi US$ 203,69 per ton atau naik sebesar US$ 15,31 per ton.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi mengungkapkan ketegangan itu membuat pasokan dilanda ketidakpastian.

"Konflik ketegangan geopolitik yang terjadi di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina menyebabkan ketidakpastian pada pasokan gas," kata Agung dalam siaran pers, Senin (7/3/2022).

Agung menjelaskan Rusia merupakan salah satu produsen gas terbesar di dunia sehingga konflik tersebut membuat adanya kendala pasokan gas di Eropa. Akibatnya negara di Eropa mulai beralih ke batu bara sebagai sumber energi.

HBA sendiri merupakan harga yang diperoleh dari rata-rata indeks Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt's 5900 pada bulan sebelumnya, dengan kualitas yang disetarakan pada kalori 6322 kcal/kg GAR, Total Moisture 8%, Total Sulphur 0,8%, dan Ash 15%.

Nantinya, harga ini digunakan secara langsung dalam jual beli komoditas batu bara (spot) selama satu bulan pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Veseel).

Terdapat dua faktor turunan yang mempengaruhi pergerakan HBA yaitu, pasokan dan permintaan. Pada faktor turunan pasokan dipengaruhi oleh cuaca, teknis tambang, kebijakan negara pemasok, hingga teknis di rantai pasok seperti kereta, tongkang, maupun terminal bongkar muat.

Sementara untuk faktor turunan permintaan dipengaruhi oleh kebutuhan listrik yang turun berkorelasi dengan kondisi industri, kebijakan impor, dan kompetisi dengan komoditas energi lain, seperti LNG, nuklir, dan hidro.

(kil/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT