Bikin Penasaran, Segini Harga Tanah Jarang Harta Karun RI yang Diburu Dunia

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Minggu, 17 Apr 2022 10:30 WIB
Indonesia disebut memiliki 512 titik harta karun yang tersebar di tambang timah. Harta karun ini disebut-disebut mempunyai nilai investasi yang sangat besar dan dunia pun sedang berlomba-lomba mencarinya.
Indonesia disebut memiliki 512 titik harta karun yang tersebar di tambang timah. Harta karun ini disebut-disebut mempunyai nilai investasi yang sangat besar dan dunia pun sedang berlomba-lomba mencarinya/Foto: Rachman_punyaFOTO
Jakarta -

Indonesia punya harta karun yang banyak dicari dunia. Harta karun itu adalah rare earth atau juga biasa disebut tanah jarang.

Mineral ini diburu karena bisa menjadi bahan penting untuk membuat komponen elektronik, mobil listrik dan lainnya.

Nah sekarang pertanyaannya berapa sih harganya?

Menurut Direktur Utama PT Timah Achmad Ardianto secara ekonomi sebenarnya harga rare earth tak terlalu mahal. Dia juga menduga teknologi untuk mengekstraksi rare earth pun tak butuh biaya besar. Hanya saja menurutnya, saat ini rare earth sedang banyak dibutuhkan dan dicari banyak orang.

"Sebenarnya harganya sih nggak hebat-hebat amat, cuma memang ini akan selalu dibutuhkan. Dugaan saya teknologinya juga nggak mahal kelihatannya gitu. Karena produknya juga nggak mahal," ungkap Achmad dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR, Senin (11/4/2022).

Achmad menyatakan produk rare earth paling mahal mungkin hanya berkisar di antara US$ 6.000 per ton. Bila dirupiahkan jumlahnya hanya sekitar Rp 86,1 juta dalam kurs Rp 14.350.

"Itu antara yang paling mahal mungkin antara US$ 6.000-an per ton, yang bawah itu US$ 1500 hingga 2000-an per ton," kata Achmad.

Menurutnya, logam tanah jarang memiliki elemen strategis yang sangat tinggi dan sangat dibutuhkan di dunia. Sedangkan ketersediaannya tidak banyak.

"Logam tanah jarang ini memang memiliki elemen strategis yang sangat tinggi, sangat dibutuhkan oleh seluruh dunia, ketersediaan tidak banyak, dan pemilik teknologinya juga tidak banyak," jelas Achmad.

PT Timah sendiri sedang mencari teknologi untuk mengelola rare earth dari mineral monasit. Mineral tersebut banyak ditemukan di tambang timah. Untuk menemukan monasitnya saja sangat sulit, dari satu ton biji timah tak sampai 1% kandungan monasitnya.

Selepas monasit perlu ada teknologi untuk melakukan ekstraksi terhadap kandungan rare earth-nya.

"Dari satu ton biji timah, itu monasitnya cuma 0,95% nggak sampai 1%, ini kecil sekali. Namun nilainya ini luar biasa karena sangat dibutuhkan," papar Achmad.

Sementara itu, dilansir dari Reuters, harga rare earth di China sedang bergejolak tinggi-tingginya yakni di level ratusan ribu dolar per ton. Harga tanah jarang telah melonjak sejak paruh kedua tahun 2021 di tengah kekhawatiran ketidakpastian pasokan dari Myanmar.

Harga rare earth paduan praseodymium-neodymium China berada di level US$ 218.395 per ton di awal Maret. Artinya, bila dirupiahkan mencapai Rp 3,13 miliar. Material itu digunakan untuk membuat magnet super kuat untuk motor kendaraan listrik.



Simak Video "Penemuan Bangkai Kapal Berisi Harta Karun Koin di Kolombia"
[Gambas:Video 20detik]
(hal/zlf)