Mahalnya Harga Solar Bisa Kuras Dompet Warga AS Sampai Kering

Ilyas Fadilah - detikFinance
Jumat, 13 Mei 2022 12:57 WIB
Harga BBM di AS tengah mengalami lonjakan signifikan. Momen tersebut dimanfaatkan kubu opsisi, Partai Republik untuk menggaet jumlah anggota. Langsung di SPBU !
Foto: REUTERS/MIKE BLAKE
Jakarta -

Solar mencatatkan dua rekor sekaligus di Amerika Serikat (AS). Pertama adalah rekor kenaikan harga solar yang tinggi. Kedua, persediaan solar yang menipis dan memicu kekhawatiran akan situasi yang lebih buruk.

Dampak kenaikan harga solar tidak hanya dirasakan oleh pengemudi truk sebagai konsumen utamanya. Lebih lanjut kondisi ini bisa menguras dompet warga AS dengan berbagai cara.

"Dampak pertama tingginya harga solar terhadap ekonomi adalah membuat biaya pengiriman jadi mahal," kata Tom Kloza, Kepala Analisis Energi Global OPIS dikutip dari CNN Jumat (13/5/2022). Ia mengumpulkan temuan data harga bensin kepada AAA (American Automobile Association).

"Cara kedua adalah kemungkinan gangguan terhadap rantai pasok. Ini sama sekali tidak baik," katanya.

Ekonom terkemuka di bidang energi Phil Verleger khawatir jika pasokan yang ketat membuat rata-rata harga solar di AS jadi US$ 10 per galon atau Rp 145.000 (kurs Rp 14.500). Phil memprediksi hal ini akan terjadi di akhir musim panas, yaitu naik US$ 5,56 atau Rp 80.620.

Phil berpendapat jika tingginya harga solar dapat menghambat laju ekonomi AS. Menurutnya kondisi ini terjadi akibat konflik antara Rusia dan Ukraina. "Sampai terjadinya invasi ke Ukraina, kita tidak pernah melihat kondisi seperti ini," katanya.

"Pasar benar-benar terdistorsi. Dan hasilnya kita melihat melihat aktivitas ekonomi yang semakin melambat," ungkapnya.

Barang yang selama ini dibeli masyarakat dikirim oleh truk yang mengonsumsi bahan bakar solar. Jika solar naik maka beban tambahan biaya akan ditanggung oleh pelanggan. Selain itu seluruh rantai pasok dapat tersedak jika kelangkaan solar berlanjut.

Naiknya harga solar juga mengganggu sektor pertanian AS. Petani terpaksa mengurangi produktivitas dan pemupukan, membatasi pasokan, hingga menaikkan harga pangan di luar biaya tambahan transportasi. "Banyak pengemudi truk tidak bisa beroperasi," kata Phil.

"Jika Anda seorang petani, Anda mungkin harus meninggalkan hektaran tanah atau tidak akan memupuk sebanyak itu," katanya. Ia berpendapat jika kondisi ini tidak dimengerti ekonom marko meski ancaman nyata sedang menghantui.



Simak Video "Kapolri: 19 Tersangka Mafia BBM Bersubsidi Sudah Ditangkap"
[Gambas:Video 20detik]
(das/das)