Irak Tolak Keras Dominasi China di Proyek Minyak

Aulia Damayanti - detikFinance
Selasa, 17 Mei 2022 22:45 WIB
Bendera Irak Pertanda Kemenangan dari ISIS
Foto: DW (News)
Jakarta -

Kementerian Perminyakan Irak telah menggagalkan tiga kesepakatan kerja sama pengelolaan minyak dengan China. Kesepakatan itu dibatalkan lantaran memberikan kendali yang besar kepada perusahaan-perusahaan China untuk mengontrol industri maupun ladang minyak Irak.

Sebenarnya, China adalah investor utama Irak. Baghdad adalah penerima manfaat terbesar tahun lalu. Sebesar US$ 10,5 miliar digelontorkan China untuk proyek infrastruktur termasuk pembangkit listrik dan bandara.

Namun, mengutip Reuters Selasa (17/5/2022), kalau soal industri minyak, pemerintah Irak memberikan garis batas untuk China. Pemerintah khawatir dominasi China di industri minyak dapat membuat Irak kurang menarik bagi investasi dari tempat lain.

Ketiga kesepakatan yang tidak berlanjut itu digagalkan oleh Menteri Perminyakan Irak Ihsan Abdul Jabbar tahun lalu. Pertama, Irak menghalangi rencana Lukoil raksasa minyak Rusia yang mau menjual saham di salah satu ladang minyak Irak West Qurna 2 kepada perusahaan China Sinopec.

Kedua, menghentikan perusahaan-perusahaan yang didukung negara China membeli saham Exxon di West Qurna 1. Ketiga, membujuk BP (BP.L) untuk tetap tinggal di ladang minyak Irak Rumaila, daripada harus membuat kesepakatan dengan sebuah perusahaan China.

Gabungan Rumaila dan West Qurna merupakan ladang minyak penghasil setengah dari minyak mentah yang keluar dari Irak. Ladang minyak itu juga memiliki cadangan minyak terbesar kelima di dunia.

Simak juga Video: Badai Pasir Terjang Baghdad, Ratusan Warga Sulit Bernapas

[Gambas:Video 20detik]



(hns/hns)