Sri Mulyani Prediksi Pertamina Tekor Rp 190 T-PLN Rp 71 T Imbas Harga Minyak

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 19 Mei 2022 14:24 WIB
Ketua DPR RI Puan Maharani didampingi anggota dewan dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, menyampaikan kerangka kebijakan ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal (KEM PPKF) tahun 2022, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (20/05/2021).
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati/Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan arus kas PT Pertamina (Persero) defisit US$ 12,98 miliar atau Rp 190,8 triliun (kurs Rp 14.700) akhir tahun ini. Hal itu akibat dampak kenaikan harga minyak mentah dunia.

"Untuk Pertamina arus kas defisitnya estimasinya mencapai US$ 12,98 miliar," kata Sri Mulyani dalam rapat bersama Badan Anggaran DPR RI, Kamis (19/5/2022).

Proyeksi itu didapat dari arus kas Pertamina yang sudah defisit US$ 2,44 miliar atau Rp 35,86 triliun per Maret 2022. Defisit terjadi karena ketika harga minyak mentah dunia naik, Pertamina tidak langsung menaikkan harga BBM di dalam negeri.

Sampai saat ini Pertamina masih menanggung selisih lebar antara harga jual eceran (HJE) dan harga keekonomian BBM. Pasalnya BUMN energi itu belum mendapat tambahan suntikan anggaran subsidi dan dana kompensasi dari pemerintah.

"Arus kas operasional Pertamina sejak Januari constantly negatif karena Pertamina harus menanggung perbedaan (harga), ini yang menyebabkan kondisi keuangan Pertamina menurun," jelas Sri Mulyani.

Tak hanya Pertamina, Sri Mulyani juga memperkirakan arus kas yang defisit terjadi pada PT PLN (Persero). Sebab, PLN belum menaikkan tarif listrik di tengah kenaikan harga komoditas energi.

"Defisit ini diperkirakan akan mencapai Rp 71,1 triliun untuk PLN," ujarnya.

Per 30 April 2022 PT PLN (Persero) telah menarik pinjaman sebesar Rp 11,4 triliun dan akan melakukan penarikan pinjaman kembali di Mei dan Juni. Dengan begitu total penarikan pinjaman sampai Juni diperkirakan mencapai Rp 21,7 triliun sampai Rp 24,7 triliun.

Jika tidak ada tambahan kompensasi dari pemerintah, sampai Desember 2022 arus kas operasional PLN diproyeksikan akan defisit Rp 71,1 triliun. Untuk itu, pemerintah meminta restu kepada Banggar DPR RI untuk menambah anggaran subsidi dan dana kompensasi energi sebesar Rp 291 triliun menjadi Rp 443,6 triliun pada tahun ini.

Simak juga video 'Sri Mulyani: Inflasi Dekati 4%, Pertumbuhan Ekonomi Mungkin Tertekan

[Gambas:Video 20detik]



(aid/ara)