Tanpa Gas dari Rusia, Ekonomi Eropa Bisa Terguncang hingga Kedinginan

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 23 Mei 2022 12:51 WIB
Ilustrasi sektor migas
Foto: Ilustrasi Migas (Fauzan Kamil/Infografis detikcom)
Jakarta -

Rusia makin serius menata serangan baliknya ke negara-negara Eropa. Negara pimpinan Presiden Vladimir Putin itu digempur berbagai sanksi ekonomi dari negara-negara Eropa setelah melakukan invasi ke Ukraina.

Kini Putin siap menyerang balik dengan menghentikan pasokan gasnya ke Eropa. Diketahui, selama ini negara-negara Eropa menggantungkan pasokan energinya dari gas yang diimpor Rusia.

Dalam laporan penelitian lembaga think tank Bruegel, negara-negara Eropa harus mempersiapkan diri jika Rusia benar-benar menghentikan aliran gasnya.

Sederet dampak buruk membayangi negara Eropa bila benar-benar kehilangan pasokan gas dari Rusia. Mulai dari macetnya kegiatan ekonomi hingga orang-orang yang akan kedinginan.

"Uni Eropa akan menanggung biaya lebih besar untuk mendapatkan gas dan ada potensi hancurnya kegiatan ekonomi, pasokan listrik yang terganggu dan orang-orang kedinginan," kata peneliti Bruegel dikutip dari CNN.

Gas banyak digunakan untuk bahan bakar berbagai kebutuhan. Mulai dari industri sampai ke yang paling sederhana menyalakan penghangat ruangan di rumah-rumah.

Sekadar informasi, saat ini 40% pasokan gas alam Eropa berasal dari Rusia. Aliran gas itu mengalir ke berbagai negara mulai dari Jerman, Austria, Hungaria, Slovenia dan Slovakia sampai Polandia.

Jika pengiriman gas dari Rusia terhenti. Maka Eropa akan kehilangan sekitar 10%-15% pasokannya, bahkan lebih.

Eropa juga mungkin akan terpaksa untuk menggunakan bahan bakar alternatif seperti batu bara dan pembangkit nuklir. Penggunaan batu bara disebut memiliki konsekuensi besar untuk iklim di dunia, apalagi Eropa sendiri menjadi pelopor untuk meninggalkan energi tak ramah lingkungan tersebut.

Lanjut di halaman berikutnya.



Simak Video "Uni Eropa Teken Kerjasama Suplai Gas dengan Israel dan Mesir"
[Gambas:Video 20detik]