Jangan Senang Dulu, Deal RI dengan Tesla Bisa Gagal Gara-gara Ini

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 26 Mei 2022 13:00 WIB
Jokowi kunjungi lokasi fasilitas produksi roket SpaceX bersama Elon Musk pada Sabtu (14/5/2022) lalu. Yuk, tengok lagi gaya Jokowi dan Elon Musk saat bertemu.
Foto: Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden
Jakarta -

Pemerintah terus memepet pabrikan kendaraan listrik asal Amerika Serikat, Tesla, untuk melakukan investasi di tanah air. Tesla disebut tertarik untuk membuat ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.

Nikel, jadi 'harta karun' terbesar Indonesia yang dilirik Elon Musk, miliarder pendiri Tesla. Menurut Dewan Penasihat Asosiasi Profesi Metalurgi Arif S Tiammar, nikel menjadi salah satu komponen besar untuk memproduksi baterai mobil listrik.

Menurutnya, potensi nikel di Indonesia merupakan nomor satu dunia. Ada juga yang bilang kedua terbesar di dunia. Pokoknya, Arif menegaskan sumber daya nikel di Indonesia sangat melimpah.

"Seberapa menarik Indonesia di mata Elon Musk? Secara faktual sangat menarik memang. Karena Indonesia potensi nikelnya melimpah, malah satu data mengatakan terbesar di dunia, data lain bilang ke dua, tapi nggak pernah ke tiga, ke satu kedua lah," ungkap Arif dalam Podcast Tolak Miskin detikcom.

Indonesia memang disebut-sebut sebagai pemasok terbesar dunia untuk nikel. Indonesia punya cadangan nikel sekitar 52% dari cadangan dunia. Produksi nikel Indonesia dilaporkan sekitar 800 ribu ton atau sekitar 30 % dari total produksi nikel dunia.

Arif mengatakan Elon Musk mengarahkan Tesla menjadi sebuah perusahaan pabrikan kendaraan listrik yang terintegrasi. Bukan cuma dari segi kendaraannya, tapi juga baterainya. "Karena dia ingin jadi the winner, the lowest cost producer is the winner," katanya.

Dalam sebuah unit baterai listrik komponen terbesarnya adalah baterai, chasis dan body, dan juga mesin penggerak. Nah nikel sangat dibutuhkan untuk memproduksi baterai mobil listrik.

Nikel, menurut Arif, menjadi komponen terbesar dalam sebuah baterai. Tepatnya, pada bahan baku komponen katoda yang ada di dalam baterai. Katoda menjadi kandungan komponen terbesar dalam sebuah baterai, jumlahnya mencapai 40% dari semua kandungan yang ada.

"Fokus ke material katoda ini lah di dalamnya ini nikel itu terdapat. Material katoda material kutub positif. Baterai katoda itu terbuat dari apa, paling dominan secara cost nikel sulfat hexahydrate," ungkap Arif.

Lalu, dengan modal sumber daya alam nikel apakah akan benar-benar membuat Tesla masuk ke Indonesia?

Arif menilai belum tentu, ada satu kelemahan Indonesia yang mungkin dapat mengurangi minat Tesla untuk investasi dan membentuk ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.

Hal itu adalah penerapan nilai-nilai ESG alias enviromental, social, and governance. Nilai ESG adalah nilai-nilai praktik perusahaan yang mengacu pada 3 hal, mulai dari lingkungan, dampak sosial, hingga tata laksana regulasi yang baik.

Nah, Arif menilai nilai-nilai ESG di Indonesia belum sepenuhnya diterapkan oleh semua pemangku kepentingan. Bila bicara standarnya pun sangat jauh dengan standar perusahaan Amerika yang melantai di bursa macam Tesla.

"Mohon maaf kalau standar perusahaan Wall Street di atas 500, industri kita masih jauh di bawah itu. Perlu peningkatan. Harus ada kolaborasi berbagai pihak, pemainnnya itu sendiri, regulatornya, dan investornya," kata Arif.

ESG sendiri menjadi poin penting Tesla dalam menjalankan perusahaannya karena berpengaruh sangat besar terhadap reputasi perusahaan. Saham Tesla beberapa waktu lalu sempat hancur harganya salah satunya karena penerapan ESG. Poin ESG Tesla disebut oleh suatu lembaga survei anjlok, sejak saat itu pemegang saham Tesla langsung banyak yang cabut dari perusahaan.

(hal/eds)