ADVERTISEMENT

Joe Biden Sindir Keras Exxon: Keruk Banyak Keuntungan!

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Sabtu, 11 Jun 2022 22:13 WIB
Joe Biden berbicara soal kemerdekaan Palestina di Sidang Majelis Umum PBB. Ia menilai kemerdekaan Palestina jadi cara terbaik untuk pastikan masa depan Israel
Foto: AP Photo: Presiden Amerika Serikat Joe Biden
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menyindir keras perusahaan minyak AS. Salah satunya adalah Exxon Mobil Corp yang disebut memanfaatkan situasi mencari keuntungan dalam kondisi inflasi yang sedang tinggi.

Memang inflasi di AS melonjak tinggi. Hal ini disebabkan oleh tingginya harga bensin dan tingginya harga bahan pokok. Pada Jumat harga satu galon bensin tercatat US$ 4,99.

Sebelumnya Joe Biden menyebut ingin mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Joe Biden juga memperingati industri minyak di AS agar tidak melulu mengeruk keuntungan di saat kondisi ekonomi sedang sulit.

"Exxon mengeruk banyak keuntungan tahun ini," kata Joe Biden dikutip dari Reuters, Sabtu (11/6/2022).

Joe Biden menegaskan perusahaan minyak AS tidak menggunakan keuntungan yang mereka raih untuk pengeboran. Justru lebih banyak untuk pembelian saham.

Nah pembelian saham ini membuat jumlah saham yang beredar berkurang. Secara tak langsung membantu mengerek harga saham perusahaan.

"Mengapa mereka tidak melakukan pengeboran? Karena mereka menghasilkan lebih banyak uang di sana, tapi tak menghasilkan minyak. Exxon, mulailah berinvestasi dan bayar pajak Anda," jelasnya.

Pihak Exxon enggan memberikan pernyataan terkait komentar Biden. Saat ini pihaknya berupaya terus meningkatkan produksi minyak, bensin dan diesel di AS.

"Kami telah melakukan kontrak rutin dengan pemerintah dan menyampaikan terkait rencana investasi untuk peningkatan kapasitas produksi di AS," jelas Exxon

Pada 2020 Exxon kehilangan sekitar US$ 20 miliar dan melakukan penarikan utang sekitar US$ 30 miliar untuk pembiayaan operasional. Tahun lalu Exxon membayar pajak US$ 40,6 miiar lebih tinggi dibandingkan tahun 2020 sebesar US$ 17,8 miliar

(kil/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT