Tarif Listrik Naik, Pengusaha Rumahan Megap-megap Biaya Produksi Bengkak

ADVERTISEMENT

Tarif Listrik Naik, Pengusaha Rumahan Megap-megap Biaya Produksi Bengkak

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 13 Jun 2022 12:03 WIB
Warga memasukkan pulsa token listrik di tempat tinggalnya, di Jakarta, Selasa (1/4/2020). Dampak penyebaran pandemi virus COVID-19, Pemerintah mmenggratiskan pembayaran listrik bagi 24 juta masyarakat miskin, untuk pelanggan berdaya listrik 450 VA gratis biaya listrik selama 3 bulan (April-Juni 2020) sedangkan bagi pelanggan dengan daya 900 VA bersubsidi akan diberikan diskon 50 persen. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/foc.
Foto: ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI
Jakarta -

Pemerintah memutuskan untuk menaikkan tarif listrik mulai 1 Juli 2022. Penyesuaian tarif listrik dilakukan pada lima golongan pelanggan non subsidi.

Adapun pelanggan yang mengalami kenaikan tarif yakni golongan R2 (3.500-5.500 VA), R3 (6.600 VA ke atas), P1 (6.600VA sampai 200kVA), P2 (200 kVA ke atas), dan P3.

Pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) mengeluhkan kenaikan tarif listrik ini. Sekjen Asosiasi UMKM Indonesia Edy Misero menilai masih banyak pelaku UMKM yang menggunakan listrik golongan rumah tangga. Maka dari itu, bila tarif listrik naik maka pengusaha kecil dan menengah akan terdampak juga.

"Memang masih banyak. Dari 100% pelaku UMKM, yang middle to low dan gunakan 3.500 itu juga banyak banget. Ini akan berdampak ke kenaikan hasil produksi," ungkap Edy ketika dihubungi detikcom, Senin (13/6/2022).

Edy menjelaskan listrik adalah salah satu komponen biaya yang mempengaruhi hasil akhir produksi. Baik itu jasa ataukah produk. "Otomatis kalau bahan baku kita sebut saja itu naik, maka otomatis ganggu biaya kita," katanya.

Ujungnya, kalau biaya produksi meningkat harga barang juga akan meningkat. Yang jadi masalah adalah bila harga barang meningkat pelaku UMKM berpotensi kehilangan pelanggan.

"Permasalahan inti adalah kalau kita sesuaikan harga, pasar mau terima nggak? Kalau saya naikkan harga itu produk saya masih terserap pasar nggak? Pasar mau ambil nggak, kalau pasar jadi berkurang itu yang jadi masalah," kata Edy.

Di tengah kondisi ekonomi seperti ini, Edy menyatakan pelaku UMKM meminta kenaikan tarif listrik ditinjau kembali. Menurutnya, lonkakan-lonjakan harga akan sangat sensitif mempengaruhi pelaku usaha kecil dan menengah.

"Kalau dimungkinkan nggak berubah ya nggak berubah dulu deh. Bahan baku yang kami pakai jangan dinaikin dulu," kata Edy.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyatakan dampak inflasi pada kebijakan kenaikan listrik kali ini dinilai akan sangat kecil. Pasalnya target kenaikan tarif listrik menyasar golongan mampu.

Bagaimana kelanjutannya? Lihat di halaman berikutnya.



Simak Video "Dianggap Sebagai Orangnya Luhut, Darmawan Prasodjo: Saya Profesional"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT