ADVERTISEMENT

Harga Pertalite-Pertamax Harusnya Rp 30 Ribu/Liter, Kok Jualnya di Bawah Itu?

Danang Sugianto - detikFinance
Minggu, 03 Jul 2022 11:00 WIB
BBM jadi salah satu kebutuhan dasar bagi masyarakat untuk beraktivitas. Program BBM Satu Harga diharapkan dapat gerakan ekonomi rakyat Indonesia secara merata.
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Harga minyak dunia terus mengalami kenaikan hingga menyentuh level di kisaran US$ 100-120 per barel. Kondisi ini tentu berimbas pada harga bahan bakar minyak (BBM).

Menariknya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif sempat bicara harga BBM di Indonesia. Menurutnya dengan harga minyak dunia saat ini seharusnya harga keekonomian BBM RON 90 maupun RON 92 seperti Pertalite dan Pertamax di atas Rp 30.000.

"Sekarang ini harga minyak dunia sudah di atas US$ 100-120 per barel. Harga keekonomian BBM RON 90 maupun RON 92 (di negara-negara lain), rata-rata di atas Rp 30.000. Kita harus antisipasi ini karena situasi krisis energi tidak bisa diramalkan selesai tahun ini atau lebih lama lagi," ungkap Arifin DPPU Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur pada Jumat (24/6).

Selanjutnya, ia membandingkan dengan harga BBM di Indonesia yang jauh lebih murah. "Pertalite (RON 90) saja dijual Rp7.650, Pertamax (RON 92) kita jual Rp12.500. Makanya, kita perlu mengingatkan ke masyarakat agar menggunakan BBM seefisien mungkin. Ini berdampak pada (membengkaknya) alokasi subsidi," bebernya.

Dengan harga keekonomian yang jauh lebih tinggi dari harga jual berdampak pada beban subsidi energi. Hal itu pun mempengaruhi kenaikan belanja negara.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memprediksi belanja negara tahun ini menyentuh Rp 3.169,1 triliun. Jumlah itu jauh bertambah dari target awal di APBN pada awal tahun Rp 2.714,2 triliun. Kemudian, target dalam APBN direvisi dalam Peraturan Presiden (Perpres) 98 Tahun 2022 menjadi Rp 3.106,4 triliun.

Bahkan, setelah target sudah dinaikkan pun prediksi jumlah belanja negara masih berada di atasnya atau sebesar 102%. Sri Mulyani menyebut belanja negara naik pesat dalam rangka melindungi masyarakat dari krisis.

"Jadi, total belanja negara tahun ini bisa mencapai Rp 3.169 triliun. Jauh lebih besar dari APBN di awal. Ini cerita tadi berikan selimut atau bantalan untuk melindungi masyarakat dari guncangan," papar Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran di gedung DPR RI, Jakarta Selatan, Jumat (1/7/2022).

Sri Mulyani menuturkan belanja negara meningkat pesat salah satunya karena penetapan anggaran subsidi dan kompensasi yang meningkat, utamanya pada subsidi dan kompensasi energi.

Sri Mulyani memperkirakan hingga akhir tahun jumlah subsidi meningkat menjadi Rp 284 triliun. Padahal target belanja subsidi pada APBN di awal tahun sebesar Rp 207 triliun.

Kenaikan paling tinggi terjadi pada anggaran belanja kompensasi BBM dan listrik. Sampai akhir tahun, Sri Mulyani bilang untuk biaya kompensasi energi pemerintah akan mengeluarkan anggaran hingga Rp 293 triliun. Padahal, pada awal tahun anggaran belanja kompensasi pada APBN hanya mencapai Rp 18,5 triliun.



Simak Video "Wanti-wanti Jokowi Harga BBM-Roti Bisa Naik Gegara Perang di Ukraina"
[Gambas:Video 20detik]
(das/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT