ADVERTISEMENT

Harga Minyak Mentah Sudah Melejit 350%, Sri Mulyani: Ini Situasi Ekstrem!

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 15 Jul 2022 09:49 WIB
Sejumlah kendaraan antre mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Tol Sidoarjo 54.612.48, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (11/4/2022). Pemerintah menetapkan Pertalite sebagai jenis BBM khusus penugasan yang dijual dengan harga Rp7.650 per liter dan Biosolar Rp5.510 per liter, sementara jenis Pertamax harganya disesuaikan untuk menjaga daya beli masyarakat yakni menjadi Rp 12.500 per liter dimana Pertamina masih menanggung selisih Rp3.500 dari harga keekonomiannya sebesar Rp16.000 per liter di tengah kenaikan harga minyak dunia. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/rwa.
Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru
Nusa Dua -

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkap saat ini dunia sedang dalam situasi yang tidak baik-baik saja. Menurut data Bank Dunia (World Bank) harga minyak mentah sudah naik 350% sejak April 2020 hingga 2022.

Merespons data tersebut, Sri Mulyani mengatakan peningkatan itu menandakan situasi ekstrem pada sektor energi.

"Saya pikir kita semua ingat awal pandemi di bulan April ada dua hari di mana harga minyak sebenarnya nol atau bahkan sedikit negatif. Dan sekarang kita menghadapi situasi ekstrem," jelas Sri Mulyani dalam pembukaan pertemuan Menkeu dan Gubernur Bank Sentral G20, di BNDCC 1, Nusa Dua, Bali, Jumat (15/7/2022).

Ia menambahkan, lonjakan 350% ini merupakan peningkatan terbesar untuk periode dua tahun sejak 1997. Padahal pada awal pandemi COVID-19 harga minyak mentah sempat merosot ke angka nol bahkan negatif.

"Kami menyaksikan harga gas alam di Eropa meningkat 60% hanya dalam dua minggu. Bahkan di sejumlah negara mengalami kelangkaan. Kami melihat ini memiliki implikasi politik dan sosial yang besar di Sri Lanka, Ghana, Peru. Ekuador dan di tempat lain," tuturnya.

Kelangkaan gas alam pun disebut menjadi ancaman penghambat pemulihan ekonomi negara. Oleh sebab itu, Sri Mulyani meyakini saat ini situasi global alami krisis energi. Ia khawatir, situasi saat ini akan meningkatkan inflasi global.

"Perang serta kenaikan harga komoditas dapat memperburuk lonjakan inflasi global dan meningkatkan ketidakstabilan sosial lebih lanjut. Kita bisa melihat penurunan lebih lanjut dalam standar hidup, terutama untuk rumah tangga miskin dan rentan," tutupnya.

Berdasarkan data di website resmi The World Bank, harga energi meningkat 26,3% antara Januari dan April 2022. Angka lonjakan itu didorong peningkatan harga batu bara, minyak, dan gas alam.

Secara nominal, harga minyak mentah sendiri telah meningkat sebesar 350% dari April 2020 hingga April 2022. Kenaikkan ini menjadi peningkatan terbesar dalam dua tahun ini.

Simak Video 'Sri Mulyani di Hadapan Menkeu G20: Kita Menghadapi Situasi yang Sulit':

[Gambas:Video 20detik]




(ang/ang)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT