ADVERTISEMENT

Alamak! Duit Negara Bisa Menguap Sampai Rp 400 T buat Subsidi BBM

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 22 Jul 2022 16:25 WIB
Warga membeli bbm subsidi jenis premium di SPBU Pertamina, Otista, Jakarta Timur, Jumat (15/11/2019). Pertamina berharap penyaluran BBM Bersubsidi tepat sasaran. Sebab yang terjadi di lapangan hingga kini BBM Bersubsidi masih banyak dikonsumsi oleh masyarakat yang secara ekonomi tergolong mampu.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan subsidi bahan bakar minyak (BBM) bisa tembus Rp 400 triliun. Hal itu disebabkan karena kondisi ketidakpastian ekonomi global akibat perang Rusia dan Ukraina.

Hal itu dikatakan Bahlil di sela-sela acara Pemberian Nomor Induk Berusaha (NIB) Pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMK) Perseorangan di Medan yang juga disiarkan di YouTube, Kamis (21/7).

Bahlil mengatakan akibat konflik Rusia dan Ukraina, saat ini harga minyak dunia terus meningkat hingga tembus US$ 100 per barel. Sementara asumsi di APBN kurang lebih US$ 68-70 per barel. Ia bilang jika harga minyak tidak kunjung mereda, subsidi BBM Indonesia bisa tembus Rp 400 triliun.

"Kalau kita tidak hati-hati, maka kita akan tekor dalam melakukan subsidi terhadap selisih harga BBM. Bahkan dalam beberapa kajian yang kami lakukan, kalau harga minyak dunia tidak turun dari US$ 100, maka subsidi kita siap-siap bisa lebih dari Rp 400 triliun. Ini berdampak pada kondisi yang tidak menguntungkan kita," jelasnya, dikutip Kamis (22/7/2022).

Meningkatnya harga energi menjadi salah satu pendorong inflasi negara meningkat. Bahlil menyebut inflasi di Indonesia kini mencapai 4-5% pada semester awal tahun ini.

"Inflasi lahir karena pangan dan energi. Inflasi kita di semester pertama ini sekitar 4-5%. Tidak bisa dihindari memang, karena sebagian pangan, energi impor," ungkapnya.

Meski begitu, Bahlil menyebutkan bahwa Indonesia tidak dalam kondisi krisis. Walaupun tidak bisa dipungkiri kalau peningkatan harga energi dan pangan juga cukup membuat pemerintah was-was.

"Apakah Indonesia keluar dari krisis? Menurut saya Indonesia tidak krisis. Bahwa kita harus berhati-hati iya, karena itu respon kita terhadap ekonomi global akibat perang Ukraina dan Rusia," jelasnya.

"Problem kita memang adalah persoalan minyak. Makanya kita harus cepat merubah dari fosil ke energi baru terbarukan. Contoh, kita sedang mendorong program motor listrik supaya kurang BBM. Kemudian gas LPG kita dorong ke listrik," tutupnya.

(eds/eds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT