ADVERTISEMENT

Presiden Ukraina Sebut Rusia Kobarkan 'Perang Gas'

Ilyas Fadilah - detikFinance
Rabu, 27 Jul 2022 09:21 WIB
Ukraines President Volodymyr Zelenskiy visits positions of Ukrainian service members, as Russias attack on Ukraine continues, in Dnipropetrovsk region, Ukraine July 8, 2022. Ukrainian Presidential Press Service/Handout via REUTERS
Foto: Ukrainian Presidential Press Service/Handout via REUTERS
Jakarta -

Perusahaan energi Rusia Gazprom kembali mengurangi aliran gasnya ke Jerman dengan alasan pemeliharaan turbin di pipa Nord Stream 1. Namun, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan ini hanyalah upaya pemerasan terhadap negara-negara Eropa.

Pipa Nord Stream 1 memasok gas ke Jerman dengan jumlah di bawah kapasitas selama berminggu-minggu. Terkait hal ini, Zelensky menuduh Rusia telah mengobarkan 'perang gas' kepada Eropa.

Melansir dari BBC, Rabu (27/7/2022), Nord Stream telah ditutup selama 10 hari demi alasan pemeriksaan rutin. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di Eropa akan kemungkinan disetopnya pasokan gas secara permanen.

Di tengah kekhawatiran tersebut, Rusia kembali mengirimkan gasnya lima hari lalu dan masih dengan kapasitas tidak full. Tetapi di hari Senin, Gazprom mengumumkan akan memotong lagi pasokan gasnya sekali lagi.

Rusia berdalih perlu melakukan pemeliharaan rutin pipa Nord Stream. Namun, Jerman tidak mempercayainya, menyebut tidak ada alasan teknis untuk membatasi jumlah suplai.

"Pemerasan gas kepada Eropa, yang semakin memburuk setiap bulan, dilakukan negara teroris untuk membuat kehidupan orang Eropa lebih buruk," kata Zelensky dalam pidato.

Zelensky mengklaim Rusia sengaja mempersulit Eropa yang sedang menghadapi musim dingin. Putin disebut tidak memikirkan kemiskinan yang bisa terjadi, atau menyebabkan musim dingin selanjutnya terasa lebih dingin.

Tahun lalu, 40% dari kebutuhan gas Uni Eropa disuplai oleh Rusia. Menurut Uni Eropa, Rusia memanfaatkan kekayaan alam mereka sebagai senjata dalam konflik ini.

Eropa tentu semakin tertekan dengan kondisi ini. Beberapa negara diprediksi kesulitan untuk memenuhi kebutuhan gas mereka menjelang musim dingin.

Para menteri energi Eropa mengadakan pembicaraan di Brussels pada hari Selasa. Mereka mengharapkan adanya tanda tangan bersama dalam menghadapi krisis tersebut.

Pekan lalu, Komisi Eropa mengusulkan agar negara-negara anggota memangkas konsumsi gas sebesar 15% selama tujuh bulan ke depan. Targetnya akan bersifat sukarela, tetapi bisa menjadi kewajiban dalam keadaan darurat.

Penyetopan pasokan gas dari Rusia telah diprediksi sebelumnya oleh Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen. Sejak Rusia menginvasi Ukraina pada bulan Februari harga gas alam melonjak tinggi. Rusia menyalahkan sanksi Barat atas situasi ini.



Simak Video "Potret Pertukaran Tawanan Militer Ukraina di Wilayah Zaporizhia"
[Gambas:Video 20detik]
(das/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT