ADVERTISEMENT

Pemerintah Terus-terusan Tahan Harga BBM, Bahaya Nggak Sih?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 10 Agu 2022 09:00 WIB
Jakarta -

Harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi masih terus ditahan hingga saat ini. Padahal di negara lain, harga minyak sudah naik gila-gilaan.

Untuk menahan harga BBM, pemerintah telah menganggarkan subsidi energi untuk tahun 2022 mencapai Rp 502 triliun. Apakah langkah ini sehat?

Ekonom Senior INDEF Faisal Basri mengungkapkan jika memang konsumsi BBM ini paling banyak dinikmati oleh kaum kelas menengah dan kelas atas. Menurut dia, kenaikan harga BBM seharusnya bisa dilakukan mengingat selama ini yang banyak menikmati justru orang-orang mampu.

"Pak Jokowi bikin Perpres atau apa itu atau Kepres atau apa ya, pokoknya ditingkat presiden itu bikin harga BBM dievaluasi setiap 3 bulan kemudian diubah setiap bulan. Sampai sekarang itu aturannya masih ada tapi tidak dilaksanakan." kata dia dalam acara Blak-blakan, Rabu (10/8/2022).

Menurut Faisal, untuk kondisi saat ini sebaiknya pemerintah menaikkan harga. Sehingga semuanya dari rakyat dan pemerintah menanggung beban.

"Kalau sekarang kan boleh jadi 70% dinikmati kelas menengah atas sehingga terjadilah jurang miskin, jurang kaya miskin. Jangan pakai rasio Gini, kalau Gini mah 0,384 itu ketimpangan pengeluaran bukan ketimpangan pendapatan," jelas dia.

Menurut Faisal, jika dilihat ketimpangan pendapatan tinggi sekali di Indonesia. Jadi 1% orang terkaya menguasai 40% kekayaan nasional.

Menurut dia, jika harga BBM naik, sebenarnya rakyat sudah biasa. Presiden mengeluarkan keputusan terkait evaluasi harga BBM setiap 3 bulan sekali dan bisa diubah.

"Naikkan saja, nah tinggal naikkannya itu harusnya 20% bisa kita turunkan jadi 10%. Jadi semua menanggung beban tapi rakyat yang paling bawah itu bebannya bertambahnya paling sedikit kan begitu." kata Faisal.

(kil/eds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT