ADVERTISEMENT

Jokowi Mau Umumkan Kenaikan BBM, Harga Pertalite Bakal Jadi Berapa?

Ilyas Fadilah - detikFinance
Jumat, 19 Agu 2022 16:31 WIB
PT Pertamina (Persero) sudah siap untuk menjual produk bensin terbarunya yakni Pertalite. Bensin RON 90 ini akan dijual pertamakali di SPBU Coco, Abdul Muis, Jakarta pada Jumat (24/7/2015) mendatang. Petugas beraktivitas di SPBU Coco, Abdul Muis, Jakarta, Selasa (21/7/2015). Pada Jumat (24/7/2015) mendatang, SPBU ini siap menjual Pertalite RON 90.  Hasan Al Habshy/detikcom.
Foto: Hasan Al Habshy
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) disebut akan mengumumkan kenaikan harga BBM minggu depan. Hal ini berdasarkan keterangan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam Kuliah Umum di Universitas Hasanuddin, Sulawesi Selatan.

Luhut belum menyebut nominal angka kenaikan BBM. Namun bila kenaikan harga BBM benar terjadi, berapa kisaran harganya?

Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, sulit memprediksi angka kenaikan BBM. Pasalnya pemerintah punya banyak variabel dalam menentukan hal ini.

"Di Indonesia kan variabel penentunya politis, dan perhitungannya banyak. Kalau ini (kenaikan BBM) kan bukan hanya ekonomi, tapi ada daya beli dan sosial," katanya kepada detikcom, Jumat (19/8/2022).

Namun, ia memastikan BBM tetap dijual di bawah harga keekonomiannya. Misalnya jika Pertalite dijual di harga keekonomiannya yang Rp 15.150/liter, hal tersebut akan memberatkan kondisi masyarakat.

Terkait isu kenaikan Pertalite menjadi Rp 10.000/liter, Komaidi menyebut hal ini tergantung dengan ruang fiskalnya. Jika dampak inflasi masih bisa dikendalikan maka bukan tidak mungkin kenaikan Pertalite Rp 10.000/liter benar terjadi.

"Tergantung masalah daya belinya, tertekannya cukup dalam atau tidak. Kalau pemerintah menilai daya belinya terkendali, inflasi impact masih dikendalikan, bisa kemudian diambil yang Rp 10.000/liter," katanya menambahkan.

Namun jika dampaknya dirasa cukup besar dan menyeluruh, kemungkinan nominal kenaikan BBM tidak akan Rp 10.000/liter.

"Dan ini kan menjelang 2024. Kalau naik Rp 10.000 membuat menjadi liar atau tidak isunya? Kalau liar kan bisa merugikan pemerintah. Nah itu yang lebih dominannya lebih ke situ. Apalagi pemiliunya serentak," ungkapnya.

Komaidi menyetujui kenaikan harga BBM jika dinilai membebani keuangan negara. Hal ini berseberangan dengan pendapat Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah yang kurang setuju dengan kenaikan harga BBM.

Piter menyarankan pemerintah tidak menaikkan harga BBM dengan nominal berapa pun. Alasannya hal tersebut dapat memicu ledakan inflasi mencapai 8%.

"Ini yang akan secara keseluruhan menaikkan ekspektasi inflasi naik. Mendorong barang-barang naik. Saya perkirakan inflasi bisa di atas 8%," katanya kepada detikcom.

Ia menyebut subsidi energi sebagai salah satu kunci keberhasilan Indonesia dalam menahan angka inflasi. Kisarannya berada di angka 4,94%, lebih baik dibanding negara-negara lain.

(ara/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT