ADVERTISEMENT

Begini Dampaknya Jika Harga BBM Naik Minggu Depan

Ilyas Fadilah - detikFinance
Sabtu, 20 Agu 2022 08:30 WIB
Warga melakukan pengisian BBM jenis Pertamax di SPBU Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (30/3/2022). Kabar berhembus BBM Ron 92 Pertamax bakal naik pada 1 April 2022. Kenaikan harga ini memang santer dikabarkan seiring dengan melejitnya harga minyak dunia.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) bakal mengumumkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak minggu depan. Beban subsidi dianggap terlalu berat dan tidak bisa tertahan lagi.

Menanggapi kabar ini, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah menyampaikan kenaikan harga BBM akan memicu angka inflasi terkerek naik.

"Ini yang akan secara keseluruhan menaikkan ekspektasi inflasi naik. Mendorong barang-barang naik," katanya kepada detikcom, Jumat (19/8/2022).

Menurut Piter subsidi energi adalah salah satu kunci keberhasilan Indonesia dalam menahan angka inflasi. Kisarannya berada di angka 4,94%, lebih baik dibanding negara-negara lain.

Inflasi yang terkontrol juga tertolong oleh langkah produsen yang belum mentransmisikan kenaikan harga bahan baku ke harga konsumen. Misalnya, kata Piter, meskipun harga gandum naik tetapi harga mie instan tidak melonjak naik. Namun hal ini bisa berubah jika BBM jadi naik.

"Dan yang paling saya khawatirkan adalah mendorong produsen benar-benar mentransmisikan kenaikan bahan baku tadi. Yang tadinya tidak menaikkan, mereka mengikuti kenaikan BBM," ungkapnya.

Meski subsidi energi mencapai Rp 502 triliun, Piter menyarankan pemerintah tetap menahan harga Pertalite. Selain menghindari letupan inflasi, Piter berpendapat APBN masih mampu memberi subsidi karena selalu dalam kondisi surplus.

Senada dengan Piter, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menyebut kenaikan Pertalite akan mendongkrak inflasi. Terlebih, inflasi komoditas energi sudah mencapai 5,03% berdasarkan data Bank Indonesia (BI).

Selain kenaikan Pertalite, menurut Tauhid inflasi dapat dipicu oleh kenaikan komoditas lain seperti Solar, Pertamax, hingga gas LPG.

"Itu bukan hanya Pertalite, ada Pertamax, Solar, kenaikannya itu 5% ya terhadap inflasi, jadi besar. Artinya bahwa memang nanti kenaikan terhadap inflasi saya kira lumayan besar," ungkapnya.

Sementara itu, Direktur CELIOS Bhima Yudhistira menyebut masyarakat miskin harus bersiap menghadapi kenaikan BBM.

"Apa kondisi masyarakat miskin saat ini siap hadapi kenaikan harga BBM, setelah inflasi bahan pangan (volatile food) hampir sentuh 11% secara tahunan per Juli 2022?," kata Bhima.

Menurut Bhima masyarakat kelas menengah rentan juga akan terdampak, mungkin sebelumnya mereka kuat beli Pertamax, tapi sekarang mereka migrasi ke Pertalite dan kalau harga Pertalite juga ikut naik maka kelas menengah akan korbankan belanja lain. Selain itu serapan tenaga kerja bisa terganggu. Dan target-target pemulihan ekonomi pemerintah bisa buyar.

"Jika inflasi menembus angka yang terlalu tinggi dan serapan tenaga kerja terganggu, Indonesia bisa menyusul negara lain yang masuk fase Stagflasi. Imbas nya bisa 3-5 tahun recovery terganggu akibat daya beli turun tajam," jelas dia.

Simak juga Video: Jokowi: Bayangkan Kalau Pertalite Rp 17.100, Demonya Berapa Bulan?

[Gambas:Video 20detik]




(hns/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT