Beralih ke Mesin Elektrik, Pabrik Gula Merah di Agam Irit Biaya 60%

ADVERTISEMENT

Beralih ke Mesin Elektrik, Pabrik Gula Merah di Agam Irit Biaya 60%

Yudistira Perdana Imandiar - detikFinance
Kamis, 25 Agu 2022 16:57 WIB
PT PLN (Persero) memberikan bantuan 3 unit mesin pengolah tebu elektrik untuk Kelompok Tani Inovatif Tebu Serumpun di Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Foto: Dok. PLN
Jakarta -

PT PLN (Persero) memberikan bantuan 3 unit mesin pengolah tebu elektrik untuk Kelompok Tani Inovatif Tebu Serumpun di Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Ketiga mesin tersebut disebar di tiga lokasi penggilingan tebu.

Mesin elektrik tersebut bakal dipergunakan untuk mengolah tebu menjadi gula merah. Sebelumnya, kelompok tani tersebut menggunakan mesin diesel.

General Manager PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Sumatera Barat, Toni Wahyu Wibowo mengatakan program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) PLN berupa mesin elektro listrik tersebut merupakan upaya perseroan untuk mendukung ekonomi masyarakat melalui electrifying agriculture.

''PLN siap tumbuh bersama masyarakat dan mendukung penggunaan teknologi oleh masyarakat. Sekarang masyarakat bisa membuktikan sendiri bahwa dengan didukung energi listrik PLN, masyarakat dapat jauh lebih untung dibandingkan dengan menggunakan energi BBM,'' jelas Toni dalam keterangan tertulis, Kamis (25/8/2022).

Toni menuturkan pihaknya masih akan terus mensosialisasikan electrifying agriculture dengan mendorong peralihan mesin diesel ke mesin listrik di Kecamatan Matur dan sekitarnya.

''Berdasarkan data survei kami, ada sekitar 200-an pabrik penggilingan tebu di daerah ini yang masih menggunakan mesin konvesional. Kami akan terus komunikasikan secara masif bahwa peralihan menggunakan mesin bermotor listrik ini akan membuat penggilingan tebu menjadi lebih modern dan efisien," tutur Toni.

Penerima bantuan mesin, Syafri Jamal mengatakan pabriknya dapat menghemat biaya operasional hingga sekitar 60 persen dengan memanfaatkan mesin elektro motor. Sebelumnya, Syafri merogoh kocek untuk pembelian BBM solar sebanyak 35 liter per minggu atau sekitar Rp 245 ribu. Kini, pihaknya hanya mengeluarkan biaya Rp 100 ribu per minggu untuk membeli token listrik.

"Dengan mesin yang baru ini efisiensi yang kami dapatkan cukup besar. Sebelumnya kami harus membeli BBM solar rata-rata Rp 980 ribu untuk penggunaan mesin diesel dompel selama satu bulan. Dengan mesin baru hanya perlu beli token sekitar Rp 400 ribu setiap bulannya,'' papar Syafri.

Pabrik yang mengolah 12 ton tebu menjadi gula merah tebu setiap minggunya itu telah memasarkan produknya ke berbagai wilayah di Sumbar, Riau, Jambi, Palembang, dan Medan. Selain lebih efisien, Syafri mengatakan, penggunaan mesin elektrik menjadikan operasional pabrik lebih efektif.

"Jadi keuntungan kami bukan hanya dari segi harga. Lingkungan pabrik juga jadi tidak berisik, sehingga komunikasi dengan anggota pabrik lebih maksimal. Kemudian tidak ada lagi pembuangan solar yang berpotensi mengotori lingkungan. Kualitas produk juga jadi lebih baik,'' ungkap Syafri.

Program electrifying agriculture mendapat dukungan dari perbankan. Kepala Seksi Pemasaran Bank Nagari Cabang Bukittinggi Yustinar memastikan Bank Nagari siap memfasilitasi petani-petani yang ingin beralih ke mesin listrik dengan pinjaman berbunga rendah untuk pembelian mesin.

''Setuju dengan PLN, kami juga mendukung electrifying lifestyle untuk membuat petani-petani tebu kita semakin maju. Bagi bapak/ibu yang ingin melakukan pembelian mesin elektro listrik dan terkendala pada modal awal, Bank Nagari siap membantu," ujar Yustinar.



Simak Video "Tak Cuma di Jawa, SPKLU PLN Juga Akan Disebar di Sumatera"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT