Bapak-Ibu Ingat! Masak Nggak Pakai LPG Mulai 2026, Ini Gantinya

ADVERTISEMENT

Bapak-Ibu Ingat! Masak Nggak Pakai LPG Mulai 2026, Ini Gantinya

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 26 Agu 2022 13:52 WIB
Pekerja tengah menurunkan gas LPG 3 Kilogram di kawasan Jakarta Selatan, Senin (3/1/2021). Skema distribusi Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kilogram (kg) bersubsidi akan diubah oleh pemerintah mulai tahun ini. Perubahan ini dilakukan karena selama ini distribusi LPG 3 kg dinilai tidak tepat sasaran.
Bapak-Ibu Ingat! Masak Nggak Pakai LPG Mulai 2026, Ini Gantinya/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sedang membangun fasilitas hilirisasi batu bara menjadi gas dimetil eter (DME). DME diproyeksikan menggantikan LPG yang kini banyak digunakan masyarakat.

Direktur Utama Bukit Asam, Arsal Ismail mengatakan pada 2026 rencananya fasilitas pemurnian itu selesai digarap. Menurutnya, sampai saat ini fasilitas hilirisasi batu bara jadi DME masih dalam tahap administratif dan pengujian setelah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Januari 2022 lalu.

Nah kemungkinan, progres fisik baru bisa dilakukan tahun depan. Kemudian pada 2026 ditargetkan DME bisa diproduksi dan menjadi pengganti LPG.

"Kalau sesuai timeline kita, kan pembangunan kurang lebih tiga tahun, kalau tahun depan sudah mulai diharapkan 2026 sudah hasilkan produk DME itu," sebut Arsal di Hotel Raffles, Jakarta Selatan, Jumat (26/8/2022).

Arsal bilang DME bakal jadi substitusi yang tepat buat LPG. Ujungnya, pemerintah bisa mengurangi impor gas untuk LPG.

"Nantinya kita akan utilize 6 juta ton (batu bara) per tahun, dan diharapkan hasilkan 1,4 juta DME per tahun dan bisa kurangi impor LPG 1 juta ton per tahun," papar Arsal.

Progres Terkini

Fasilitas hilirisasi batu bara menjadi DME dibangun di Kawasan Industri Tanjung Enim, Muara Enim, Sumatera Selatan. PTBA menggarap proyek itu bekerja sama dengan Pertamina dan juga perusahaan Amerika Serikat (AS) Air Products and Chemicals Inc.

Arsal bilang meski sudah di-groundbreaking oleh Presiden Jokowi, saat ini pihaknya masih menunggu Peraturan Presiden atau Perpres untuk menjadikan kawasan Muara Enim menjadi sebuah kawasan ekonomi khusus alias KEK.

Di samping itu, pihak Air Products pun sudah melakukan studi geotech dan juga penelitian soal kandungan batu bara di Muara Enim.

"Sementara itu, di lapangan masih jalan juga kami melakukan pengujian coal sampling. Teman-teman Air Products lakukan geotech. Dia melakukan penelitian soal lahan di sana. Mudah-mudahan berjalan baik," ungkap Arsal.

"Coal sampling tadi dilakukan agar spesifikasi tidak ada perbedaan jauh juga lagi berjalan. Sambil tunggu proses administrasi di keppresnya," lanjutnya.

Perkiraannya, tahun depan kegiatan fisik fasilitas DME bakal digarap. "Kita harapkan simultan schedule, tahun depan kegiatan fisiknya," kata Arsal.

(hal/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT