Srikandi di Balik 'Kemudi' Alat Tambang Remote Control Milik Freeport

ADVERTISEMENT

Srikandi di Balik 'Kemudi' Alat Tambang Remote Control Milik Freeport

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 01 Sep 2022 17:28 WIB
PT Freeport Indonesia (PTFI) menerapkan otomatisasi untuk melakukan eksploitasi di beberapa lokasi tambang Grasberg. Ini dilakukan untuk meminimalisir risiko.
Foto: Danang Sugianto
Jakarta -

PT Freeport Indonesia (PTFI) kini memanfaatkan digitalisasi atau otomatisasi di beberapa lokasi pertambangan di Grasberg, teruma tambang bawah tanah. Sehingga beberapa alat berat untuk mengeruk hasil tambang kini dikendalikan dari jarak jauh.

PTFI sendiri memiliki 3 lokasi tambang bawah tanah di Grasberg. Di antaranya Grassberg Block Cave (GBC), DMLZ dan Big Gossan. Saat ini tambang bawah tanah GBC dan DMLZ yang sudah menggunakan otomatisasi pertambangan.

Di lokasi itu kemudian pekerjaan penambangan melalui alat berat yang tadinya dikerjakan secara manual, dikonversi menjadi remote control. Alat berat untuk pengangkutan hasil tambang atau loader mine kini dioperasikan secara jarak jauh menggunakan remote. Selain itu alat berat untuk penghancur bebatuan atau rock breaker juga dilakukan secara remote.

PTFI sendiri menggunakan jaringan WIFI fiber optic untuk mengkoneksikan operator yang memegang alat remote control dengan alat berat yang berada di lokasi tambang. Hari ini PTFI bersama dengan Telkomsel melakukan peluncuran untuk uji coba teknologi 5G mining.

Nah menariknya, ternyata justru banyak karyawan wanita yang duduk di balik kemudi jarak jauh tersebut. Salah satunya Lusi Arwakon.

Lusi sudah bekerja di PTFI selama 6 tahun. Awalnya dia bekerja untuk posisi administrasi selama sekitar 1 tahun. Sisanya dia sudah berkontribusi dalam penambangan jarak jauh di tambang Freeport.

Dalam acara peluncuran teknologi 5G mining, tangan Lusi terlihat terampil mengoperasikan alat berat yang bernama loader mine, melalui 2 tuas kanan-kiri semacam joy stick console game. Malah sepintas mirip tuas pesawat jet tempur yang banyak digambarkan dalam film.

"Awal mula saya admin, tapi waktu itu diberitahu bahwa ada kesempatan di posisi pengendali loader mine, saya coba," tuturnya di Tembagapura, Mimika, Papua, Kamis (1/9/2022).

Untuk menjadi 'pilot' alat berat tambang tanpa awak ini, Lusi harus mengikuti sederet pelatihan yang totalnya memakan waktu 3 bulan. Bagi Lusi pelatihan itu mudah saja dilalui.

Ternyata fakta menariknya adalah, perusahaan justru lebih tertarik terhadap wanita untuk mengisi posisi tersebut. Alasannya karena wanita dianggap lebih fokus dan sabar. Sebab dibutuhkan konsentrasi tinggi dan kesabaran untuk mengendalikan alat berat tambang jarak jauh tersebut.

"Mungkin juga faktor produktifitas. Karena kalau cewe kan ya jarang merokok ya, jadi nggak berhenti buat ngerokok. Kemudian ini juga harus sabar," terangnya.

Menurut penjelasan Lusi alat berat jarak jauh itu dioerasikan hampir 24 jam penuh. Pembagian 3 shift, masing-masing 8 jam. Bahkan jika sang pilot mau ke toilet harus ada yang menggantikan sementara. Sang pilot juga tidak diperbolehkan menggunakan HP saat bekerja.

Meski sangat ketat, Lusi mengaku sangat menyukai pekerjaannya itu. Tak heran jika dia sudah 5 tahun menjadi operator remote alat berat.

"Biar nggak bosen kadang denger lagu, tapi kan boleh main HP, pake headset, jadi kadang ada teman yang lagi off setel lagu," ucapnya.

Menariknya lagi ternyata pekerjaan ini tidak membutuhkan lulusan yang sesuai dengan jurusan pertambangan. Lusi sendiri sarjana kesehatan masyarakat. Malah salah satu teman Lusi yang juga perempuan lulusan keperawatan.

Tonton juga Video: Jokowi Pamerkan Teknologi 5G Mining Pertama di Asia Tenggara

[Gambas:Video 20detik]



(das/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT